Arsip:

inovasi teknologi

Mahasiswa TSPD Syafa Rahma

Peran Survei dan Pemetaan dalam Mendukung Operasional Industri Migas: Pengalaman Magang Mahasiswa TSPD Syafa Rahma di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7

Penerapan ilmu Survei dan Pemetaan tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung operasional industri minyak dan gas bumi (migas). Hal tersebut menjadi pengalaman berharga yang diperoleh Syafa Rahma Octaviona, mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD) angkatan tahun 2023, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, selama mengikuti program magang di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7.

Program magang dilaksanakan pada 11 Maret hingga 12 Juni 2026, yang berlokasi di Head Office Cirebon, Jawa Barat. Zona 7 membawahi beberapa wilayah kerja yaitu Field Jatibarang, Field Subang, Field Tambun, serta Field OGT. Selama menjalani magang, Syafa ditempatkan pada fungsi Operation and Surface Facilities (OSF), yaitu fungsi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan fasilitas operasi permukaan yang mendukung kegiatan produksi migas. Di OSF, Syafa berada dibawah Divisi Geomatics Engineering. Pada divisi ini, Syafa terlibat dalam berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan penyediaan dan pengelolaan data spasial untuk mendukung kebutuhan operasional, engineering, dan perencanaan proyek di lingkungan Pertamina EP Zona 7.

Melalui lingkungan kerja yang multidisiplin, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami secara langsung bagaimana data spasial dimanfaatkan dalam berbagai aspek operasional industri migas. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengolahan data Sistem Informasi Geografis (SIG), pembuatan peta tematik, pengolahan foto udara menggunakan drone, pengelolaan basis data spasial aset perusahaan, hingga analisis spasial sebagai dasar perencanaan berbagai pekerjaan di lapangan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa data spasial tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi landasan penting dalam proses pengambilan keputusan teknis.

Selama program magang, Syafa turut terlibat dalam berbagai kegiatan survei lapangan. Survei lapangan pertama pada jalur pipa Sumur Cemara Selatan 20 (CMS-20) hingga Stasiun Pengumpul Cemara Selatan (SP CMS) di daerah Indramayu. Kegiatan ini merupakan survei onshore yang bertujuan mendukung rencana penambahan jalur flowline. Akuisisi data dilakukan menggunakan UAV (drone) dengan metode foto udara untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting jalur yang akan direncanakan. Dalam industri migas, flowline merupakan pipa yang mengalirkan fluida produksi dari sumur menuju stasiun pengumpul. Dari kegiatan ini Syafa belajar bahwa pembangunan jalur pipa tidak dapat dilepaskan dari data spasial yang akurat, mulai dari identifikasi kondisi lapangan, crossing dengan sungai dan jalan, hingga kebutuhan pembebasan lahannya.

Pengalaman lapangan lainnya diperoleh melalui kegiatan pemetaan jalur pipa Sumur PCT Y di daerah Kertajati, Majalengka hingga Stasiun Pengumpul Tugu Barat (SP TGB) di daerah Cikedung, Indramayu. Karena jalur yang dipetakan memiliki bentuk memanjang dengan panjang beberapa kilometer, metode yang digunakan adalah corridor mapping menggunakan drone. Kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat menarik karena selain harus memastikan kualitas data foto udara, tim juga harus menghadapi berbagai tantangan lapangan seperti kondisi cuaca, keterbatasan lokasi take off dan landing, vegetasi yang rapat, serta manajemen baterai drone agar proses akuisisi data tetap berjalan efektif. Dari pekerjaan ini mahasiswa memahami bagaimana teknologi UAV menjadi solusi yang efisien untuk pemetaan koridor pada jalur perpipaan.

Selain survei jalur pipa, Syafa juga terlibat dalam kegiatan survei di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG), Jatibarang Field. Pada kegiatan ini Syafa terlibat dalam pengukuran pondasi scrubber dan separator untuk mendukung rencana penambahan fasilitas baru di area tersebut. Selain itu dilakukan pula pemetaan foto udara area SP menggunakan UAV. Hasil survei digunakan sebagai data pendukung perencanaan konstruksi sehingga desain yang dibuat dapat menyesuaikan kondisi eksisting di lapangan.

Selain terlibat dalam kegiatan pada fungsi Operation and Surface Facilities (OSF), Syafa juga berkesempatan mempelajari proses penyusunan site plan lokasi sumur baru pada fungsi Project. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya data topografi, koordinat, kondisi lahan, dan posisi fasilitas eksisting sebagai dasar dalam perencanaan pembangunan sumur. Dalam proses tersebut, Syafa turut berkontribusi pada perhitungan volume tanah (cut and fill) menggunakan data hasil survei topografi untuk mendukung perencanaan konstruksi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa data spasial yang akurat menjadi faktor penting dalam menghasilkan perencanaan yang efektif, aman, dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Hal lain yang menarik perhatian Syafa adalah keterlibatan ilmu Survei Pemetaan dalam proses pembebasan lahan untuk jalur pipa. Sebelum pembangunan jalur pipa dilakukan, diperlukan analisis spasial untuk menentukan kebutuhan Right of Way (ROW), menghitung luas area terdampak, serta mengidentifikasi lahan yang akan dilalui jalur pipa. Proses tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan survei dan pemetaan tidak hanya berhubungan dengan aspek teknis, tetapi juga berperan dalam mendukung pengambilan keputusan yang berkaitan dengan aspek legal dan administrasi proyek.

Selama menjalani program magang, berbagai pengalaman dan keterampilan baru diperoleh, mulai dari pengoperasian peralatan survei dan pemetaan, pengolahan data Sistem Informasi Geografis (SIG) dan fotogrametri, pengelolaan WebGIS, hingga penyusunan layout peta engineering. Selain itu, kegiatan magang ini juga memberikan pemahaman mengenai sistem perpipaan, fasilitas produksi migas, manajemen proyek, komunikasi lintas disiplin, budaya kerja profesional, serta penerapan prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang menjadi aspek penting dalam operasional industri migas.

Melalui pengalaman tersebut, semakin terlihat bahwa ilmu Survei dan Pemetaan memiliki peran strategis dan ruang penerapan yang luas dalam industri migas. Data spasial menjadi landasan dalam berbagai kegiatan, mulai dari perencanaan jalur pipa, survei fasilitas, pengembangan lokasi sumur, pengelolaan aset, hingga analisis kebutuhan lahan. Program magang di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7 memberikan gambaran nyata bahwa keahlian di bidang survei dan pemetaan tidak hanya berfungsi sebagai pendukung kegiatan teknis, tetapi juga berkontribusi secara signifikan dalam menyediakan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar pengambilan keputusan di lingkungan industri migas.

Kegiatan magang ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi mahasiswa berbasis pengalaman industri, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kesiapan kerja dan kompetensi profesional, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan teknologi geospasial, UAV, dan sistem informasi geografis dalam mendukung perencanaan serta pengelolaan infrastruktur migas, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui penerapan data spasial dalam perencanaan wilayah dan infrastruktur yang lebih efektif, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemanfaatan analisis spasial yang mendukung pengelolaan lingkungan dan penggunaan lahan secara berkelanjutan.

Responsi Praktikum Survei Pemetaan II

Mahasiswa TSPD Angkatan 2025 Laksanakan Responsi Praktikum Survei Pemetaan II

Yogyakarta, 3 Juni 2026 – Sebanyak 64 mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD) Angkatan 2025, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, mengikuti kegiatan responsi mata kuliah Praktikum Survei Pemetaan II yang diselenggarakan di depan Gedung Departemen Teknologi Kebumian (DTK). Kegiatan ini merupakan bagian dari evaluasi pembelajaran praktikum yang bertujuan untuk mengukur pemahaman dan keterampilan mahasiswa dalam pengoperasian instrumen survei pemetaan serta penerapan metode pengukuran terestris.

Responsi Praktikum Survei Pemetaan II dilaksanakan di bawah bimbingan Dr. Anindya Sricandra P., S.T., M.Eng. dan M. Iqbal Taftazani, S.T., M.Eng., serta dibantu oleh tim asisten praktikum yang terdiri dari Ridho Haikal Permana, Fahmi Asshidiqi, dan Rasyid Widayanta. Kehadiran para asisten praktikum turut membantu kelancaran pelaksanaan responsi, mulai dari persiapan alat hingga pendampingan teknis selama kegiatan berlangsung.

Pada responsi kali ini, mahasiswa diuji secara individu dalam penggunaan theodolit, salah satu instrumen dasar survei dan pemetaan yang digunakan untuk mengukur sudut horizontal dan vertikal secara presisi. Penguasaan penggunaan theodolit menjadi kompetensi penting bagi mahasiswa karena merupakan dasar dalam berbagai kegiatan pengukuran dan pemetaan di lapangan.

Melalui kegiatan responsi, mahasiswa dituntut untuk memahami prinsip kerja alat, melakukan penyetelan dan pengoperasian theodolit dengan benar, serta mampu membaca, mencatat, dan menghitung hasil pengukuran sesuai prosedur yang telah dipelajari selama praktikum. Selain kemampuan teknis, responsi juga menguji ketelitian, kedisiplinan, dan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan standar kerja survei yang baik.

Mata kuliah Survei Pemetaan II merupakan salah satu mata kuliah dasar yang membekali mahasiswa dengan kompetensi pengukuran terestris sebagai fondasi dalam kegiatan survei dan pemetaan. Melalui kegiatan praktikum dan responsi, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengoperasikan instrumen survei sehingga dapat memperkuat pemahaman teori yang telah diperoleh di kelas.

Kegiatan responsi ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi hasil pembelajaran, tetapi juga sebagai upaya untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi kegiatan praktikum lanjutan maupun dunia kerja yang membutuhkan kemampuan teknis di bidang survei dan pemetaan. Dengan penguasaan instrumen dasar seperti theodolit, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi yang kuat sebagai calon tenaga profesional di bidang geospasial.

Pelaksanaan Responsi Praktikum Survei Pemetaan II ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyelenggaraan pembelajaran berbasis praktik yang mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan pembangunan dan industri geospasial di masa depan.

Digitalisasi Cagar Budaya: Teknologi HBIM pada Bangunan Herman Yohannes dan Tjahjana Adi di Kompleks Pantja Dharma

Proyek digitalisasi dan dokumentasi 3D bangunan bersejarah semakin menjadi prioritas dalam upaya pelestarian warisan budaya. Salah satu upaya penting yang tengah dilaksanakan adalah pembuatan model 3D dua bangunan bersejarah, yaitu Bangunan Herman Yohannes dan Tjahjana Adi, yang berada di kompleks Pantja Dharma. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga untuk mengembangkan sistem Heritage Building Information Modeling (HBIM), yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan dan pelestarian bangunan cagar budaya di masa depan.

 

 

Pendokumentasian dan pembuatan model 3D kedua bangunan ini memiliki tujuan strategis. Pertama, digitalisasi arsip merupakan langkah penting untuk memastikan warisan budaya tetap terjaga dan dapat diakses oleh generasi mendatang. Mengingat usia bangunan-bangunan ini, risiko kerusakan dan pelapukan sangat tinggi. Dengan digitalisasi, bentuk fisik dan detail arsitektur dapat terdokumentasi secara akurat, sekaligus menyimpan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk konservasi lebih lanjut.

Kedua, proyek ini juga bertujuan untuk mengembangkan Heritage Building Information Modeling (HBIM), sebuah sistem manajemen informasi yang memadukan teknologi modern dengan arsitektur bangunan bersejarah. HBIM memungkinkan pengelolaan bangunan cagar budaya secara lebih efisien, baik dari segi perawatan, restorasi, maupun penelitian akademis. Melalui pemodelan ini, data struktur bangunan dapat dianalisis secara mendalam, yang memungkinkan perawatan bangunan berdasarkan informasi yang akurat dan komprehensif.

 

 

Pemodelan 3D bangunan Herman Yohannes dan Tjahjana Adi dilakukan dengan menggunakan metode point cloud, yang dihasilkan dari pengukuran laser scanner. Teknologi laser scanning ini mampu menghasilkan jutaan titik data yang merekam setiap detail bangunan dengan akurasi tinggi. Setiap sudut dan elemen bangunan dipindai untuk menghasilkan representasi visual yang sangat presisi.

Data point cloud yang dihasilkan kemudian diolah menjadi model digital menggunakan perangkat lunak pemodelan 3D. Proses ini melibatkan konversi data mentah menjadi bentuk geometris yang akurat, termasuk struktur dinding, atap, jendela, serta elemen arsitektur lainnya. Setelah tahap ini, model tersebut diintegrasikan ke dalam sistem HBIM, di mana informasi terkait bahan bangunan, teknik konstruksi, dan sejarah bangunan juga dapat ditambahkan. Dengan demikian, HBIM tidak hanya menyajikan bentuk fisik bangunan, tetapi juga informasi penting yang mendukung pengelolaannya.

 

 

Model 3D bangunan Herman Yohannes dan Tjahjana Adi membuka berbagai peluang pengembangan di masa mendatang. Salah satu potensi utama adalah dalam upaya konservasi dan restorasi bangunan. Dengan adanya model digital yang sangat akurat, pihak berwenang dapat melakukan pemantauan kondisi bangunan secara berkala, mengidentifikasi kerusakan, dan merencanakan restorasi dengan lebih efisien. Selain itu, model ini juga dapat digunakan untuk simulasi restorasi, sehingga pihak konservator dapat melakukan perencanaan yang matang sebelum memulai pekerjaan fisik di lapangan.

 

Ikon SDGs 11 Kota dan komunitas yang berkelanjutan

Ikon SDGs 9 Infrastruktur, industri dan inovasi

Ikon SDGs 4 Pendidikan Bermutu

Ikon SDGs 13 Penanganan perubahan iklim