Menurut ketua tim peneliti, Ir. Erlyna Nour Arrofiqoh, pengembangan simulasi ini menjadi langkah inovatif dalam pelestarian warisan budaya berbasis teknologi. “Kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung tanpa mengurangi nilai sakral dan keaslian situs. Selain itu, simulasi ini juga mendukung kebijakan konservasi, terutama jika terjadi pembatasan wisatawan demi menjaga stabilitas struktur bangunan candi,” ungkapnya.
Motivasi lain dari penelitian ini muncul dari pengalaman pandemi COVID-19, yang sempat membatasi akses wisata dan berdampak signifikan terhadap sektor ekonomi budaya. Dengan adanya model simulasi 3D interaktif ini, masyarakat tetap dapat menikmati dan mempelajari warisan budaya Candi Prambanan secara virtual, tanpa risiko kerusakan fisik maupun keterbatasan interaksi langsung.
Lebih jauh, penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama Tujuan 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan — melalui pelestarian warisan budaya dunia dengan dukungan teknologi digital; Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas — dengan memberikan media pembelajaran interaktif untuk mahasiswa, peneliti, dan masyarakat luas; Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi — melalui inovasi dalam sektor pariwisata digital dan ekonomi kreatif.
Dengan penelitian ini, UGM menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, budaya, dan teknologi untuk mendukung keberlanjutan pelestarian warisan budaya Indonesia. Diharapkan, model simulasi 3D Candi Prambanan ini dapat menjadi percontohan bagi pengembangan digital situs-situs budaya lainnya di Indonesia.