Arsip:

SDGs 15 Menjaga Ekosistem Darat

Mahasiswa TSPD Syafa Rahma

Peran Survei dan Pemetaan dalam Mendukung Operasional Industri Migas: Pengalaman Magang Mahasiswa TSPD Syafa Rahma di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7

Penerapan ilmu Survei dan Pemetaan tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung operasional industri minyak dan gas bumi (migas). Hal tersebut menjadi pengalaman berharga yang diperoleh Syafa Rahma Octaviona, mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD) angkatan tahun 2023, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, selama mengikuti program magang di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7.

Program magang dilaksanakan pada 11 Maret hingga 12 Juni 2026, yang berlokasi di Head Office Cirebon, Jawa Barat. Zona 7 membawahi beberapa wilayah kerja yaitu Field Jatibarang, Field Subang, Field Tambun, serta Field OGT. Selama menjalani magang, Syafa ditempatkan pada fungsi Operation and Surface Facilities (OSF), yaitu fungsi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan fasilitas operasi permukaan yang mendukung kegiatan produksi migas. Di OSF, Syafa berada dibawah Divisi Geomatics Engineering. Pada divisi ini, Syafa terlibat dalam berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan penyediaan dan pengelolaan data spasial untuk mendukung kebutuhan operasional, engineering, dan perencanaan proyek di lingkungan Pertamina EP Zona 7.

Melalui lingkungan kerja yang multidisiplin, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami secara langsung bagaimana data spasial dimanfaatkan dalam berbagai aspek operasional industri migas. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengolahan data Sistem Informasi Geografis (SIG), pembuatan peta tematik, pengolahan foto udara menggunakan drone, pengelolaan basis data spasial aset perusahaan, hingga analisis spasial sebagai dasar perencanaan berbagai pekerjaan di lapangan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa data spasial tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi landasan penting dalam proses pengambilan keputusan teknis.

Selama program magang, Syafa turut terlibat dalam berbagai kegiatan survei lapangan. Survei lapangan pertama pada jalur pipa Sumur Cemara Selatan 20 (CMS-20) hingga Stasiun Pengumpul Cemara Selatan (SP CMS) di daerah Indramayu. Kegiatan ini merupakan survei onshore yang bertujuan mendukung rencana penambahan jalur flowline. Akuisisi data dilakukan menggunakan UAV (drone) dengan metode foto udara untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting jalur yang akan direncanakan. Dalam industri migas, flowline merupakan pipa yang mengalirkan fluida produksi dari sumur menuju stasiun pengumpul. Dari kegiatan ini Syafa belajar bahwa pembangunan jalur pipa tidak dapat dilepaskan dari data spasial yang akurat, mulai dari identifikasi kondisi lapangan, crossing dengan sungai dan jalan, hingga kebutuhan pembebasan lahannya.

Pengalaman lapangan lainnya diperoleh melalui kegiatan pemetaan jalur pipa Sumur PCT Y di daerah Kertajati, Majalengka hingga Stasiun Pengumpul Tugu Barat (SP TGB) di daerah Cikedung, Indramayu. Karena jalur yang dipetakan memiliki bentuk memanjang dengan panjang beberapa kilometer, metode yang digunakan adalah corridor mapping menggunakan drone. Kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat menarik karena selain harus memastikan kualitas data foto udara, tim juga harus menghadapi berbagai tantangan lapangan seperti kondisi cuaca, keterbatasan lokasi take off dan landing, vegetasi yang rapat, serta manajemen baterai drone agar proses akuisisi data tetap berjalan efektif. Dari pekerjaan ini mahasiswa memahami bagaimana teknologi UAV menjadi solusi yang efisien untuk pemetaan koridor pada jalur perpipaan.

Selain survei jalur pipa, Syafa juga terlibat dalam kegiatan survei di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG), Jatibarang Field. Pada kegiatan ini Syafa terlibat dalam pengukuran pondasi scrubber dan separator untuk mendukung rencana penambahan fasilitas baru di area tersebut. Selain itu dilakukan pula pemetaan foto udara area SP menggunakan UAV. Hasil survei digunakan sebagai data pendukung perencanaan konstruksi sehingga desain yang dibuat dapat menyesuaikan kondisi eksisting di lapangan.

Selain terlibat dalam kegiatan pada fungsi Operation and Surface Facilities (OSF), Syafa juga berkesempatan mempelajari proses penyusunan site plan lokasi sumur baru pada fungsi Project. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya data topografi, koordinat, kondisi lahan, dan posisi fasilitas eksisting sebagai dasar dalam perencanaan pembangunan sumur. Dalam proses tersebut, Syafa turut berkontribusi pada perhitungan volume tanah (cut and fill) menggunakan data hasil survei topografi untuk mendukung perencanaan konstruksi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa data spasial yang akurat menjadi faktor penting dalam menghasilkan perencanaan yang efektif, aman, dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Hal lain yang menarik perhatian Syafa adalah keterlibatan ilmu Survei Pemetaan dalam proses pembebasan lahan untuk jalur pipa. Sebelum pembangunan jalur pipa dilakukan, diperlukan analisis spasial untuk menentukan kebutuhan Right of Way (ROW), menghitung luas area terdampak, serta mengidentifikasi lahan yang akan dilalui jalur pipa. Proses tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan survei dan pemetaan tidak hanya berhubungan dengan aspek teknis, tetapi juga berperan dalam mendukung pengambilan keputusan yang berkaitan dengan aspek legal dan administrasi proyek.

Selama menjalani program magang, berbagai pengalaman dan keterampilan baru diperoleh, mulai dari pengoperasian peralatan survei dan pemetaan, pengolahan data Sistem Informasi Geografis (SIG) dan fotogrametri, pengelolaan WebGIS, hingga penyusunan layout peta engineering. Selain itu, kegiatan magang ini juga memberikan pemahaman mengenai sistem perpipaan, fasilitas produksi migas, manajemen proyek, komunikasi lintas disiplin, budaya kerja profesional, serta penerapan prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang menjadi aspek penting dalam operasional industri migas.

Melalui pengalaman tersebut, semakin terlihat bahwa ilmu Survei dan Pemetaan memiliki peran strategis dan ruang penerapan yang luas dalam industri migas. Data spasial menjadi landasan dalam berbagai kegiatan, mulai dari perencanaan jalur pipa, survei fasilitas, pengembangan lokasi sumur, pengelolaan aset, hingga analisis kebutuhan lahan. Program magang di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7 memberikan gambaran nyata bahwa keahlian di bidang survei dan pemetaan tidak hanya berfungsi sebagai pendukung kegiatan teknis, tetapi juga berkontribusi secara signifikan dalam menyediakan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar pengambilan keputusan di lingkungan industri migas.

Kegiatan magang ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi mahasiswa berbasis pengalaman industri, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kesiapan kerja dan kompetensi profesional, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan teknologi geospasial, UAV, dan sistem informasi geografis dalam mendukung perencanaan serta pengelolaan infrastruktur migas, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui penerapan data spasial dalam perencanaan wilayah dan infrastruktur yang lebih efektif, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemanfaatan analisis spasial yang mendukung pengelolaan lingkungan dan penggunaan lahan secara berkelanjutan.

Program KKN-PPM UGM : Mahasiswa Teknologi Survei Pemetaan Dasar Kenalkan Solusi Geospasial untuk Pemberdayaan Desa di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang

Salah satu mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar SV UGM bernama Zahra Pramudita mengikuti program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode 4 Tahun 2025 yang berlangsung pada 20 Desember 2025 hingga 7 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Unit 2025-JT168 Sub Unit 1 di wilayah Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.

Dalam pelaksanaan KKN-PPM, Zahra menjalankan enam program kerja yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dan teknologi geospasial. Program kerja tersebut meliputi sosialisasi pengembangan kawasan sapi perah kepada masyarakat Dusun Petung, pembuatan ZONA HIJAU GAMA-MAPS untuk pemetaan potensi hijauan pakan, serta program Kandang Aman Ternak Sehat melalui zonasi dan disinfeksi sebagai upaya biosecurity. Selain itu, dilakukan pula AQUA-MAPPING untuk pemetaan hidrologi dan perancangan distribusi air bersih, kegiatan edukasi melalui permainan “Peta Desaku” bagi siswa sekolah dasar, serta survei geospasial untuk pemetaan lokasi ideal kandang sapi perah berbasis analisis spasial dan data lapangan.

Melalui berbagai program tersebut, kegiatan KKN-PPM diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di bidang peternakan dan pengelolaan sumber daya berbasis data geospasial. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu secara langsung serta mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah di tengah masyarakat. Kegiatan ini selaras dengan upaya pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, dan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta didukung oleh SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan SDG 15: Ekosistem Daratan melalui penerapan teknologi geospasial dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Studi Deformasi Candi Prambanan untuk Menjaga Warisan Budaya UNESCO

Yogyakarta – Menjulang di antara hamparan sawah dan latar Gunung Merapi yang megah, Candi Prambanan menjadi saksi bisu kejayaan peradaban Hindu di Jawa abad ke-9. Sejak ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991, kompleks candi ini tidak hanya menjadi destinasi wisata spiritual dan budaya, tetapi juga simbol harmoni dan toleransi yang melekat dalam sejarah Nusantara.

Namun, di balik keelokannya, Prambanan menyimpan ancaman yang nyata. Letaknya yang berada di wilayah patahan aktif Sesar Opak membuat candi ini berada di zona rawan gempa bumi. Peristiwa gempa Yogyakarta tahun 2006 menjadi bukti betapa rentannya situs ini terhadap aktivitas tektonik. Kala itu, sebagian struktur batuan runtuh, beberapa relief rusak, dan sejumlah bagian utama harus melalui proses restorasi panjang.

Secara geologis, kompleks Candi Prambanan berdiri di atas tanah berpasir yang dekat dengan Sungai Opak. Kondisi ini membuatnya rentan terhadap likuefaksi dan pergerakan tanah ketika terjadi gempa besar. Selain itu, aktivitas vulkanik Gunung Merapi, yang terletak sekitar 25 kilometer di utara, turut menambah tantangan konservasi.

“Candi Prambanan bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga monumen yang berdiri di atas wilayah geologi yang hidup. Karena itu, upaya konservasi harus berbasis pada data ilmiah,” ungkap Rochmad Muryamto, dosen Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus ketua peneliti pada studi ini.

Sejak tahun 2022, tim peneliti dari Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM melakukan pemantauan deformasi pada Candi Prambanan sebagai bagian dari riset geodetik untuk konservasi cagar budaya. Studi deformasi merupakan penelitian yang bertujuan memantau perubahan posisi atau bentuk struktur secara presisi akibat faktor alam, seperti gempa, pergerakan tanah, maupun penurunan fondasi. Melalui studi ini, tim dapat mendeteksi perubahan sekecil apa pun — bahkan dalam satuan milimeter — sebelum berdampak besar pada stabilitas struktur.

Tim UGM menggabungkan dua teknologi utama: Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Total Station. Melalui GNSS, delapan titik kontrol di sekitar kompleks candi dipantau selama 24 jam penuh menggunakan receiver ganda frekuensi tinggi. Hasil pengukuran mampu menghasilkan posisi dengan akurasi hingga tingkat milimeter, memungkinkan deteksi pergerakan tanah secara absolut.

Sementara itu, pengamatan Total Station dilakukan dengan memasang prisma pengukuran langsung pada tubuh candi. Instrumen ini merekam pergeseran relatif antar titik pantau di permukaan bangunan. Pengamatan dilakukan secara berkala pada tahun 2022 hingga 2025, untuk melihat perubahan spasial dari waktu ke waktu.

“Metode ini memungkinkan kami mendeteksi deformasi hingga fraksi milimeter, sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan pengamatan visual biasa,” kata Hidayat Panuntun, anggota peneliti yang terlibat dalam pengolahan data lapangan. Pendekatan ganda ini—memadukan pemantauan horizontal dan vertikal—memberikan gambaran menyeluruh tentang perilaku struktur candi terhadap lingkungan geodinamiknya. “Dengan data ini, kami dapat merekomendasikan area mana yang perlu pemantauan lebih sering dan bagian struktur mana yang mungkin membutuhkan intervensi konservasi,” ujar Panuntun.

Data deformasi seperti ini sangat krusial untuk merancang kebijakan konservasi berbasis bukti (evidence-based conservation). Dengan sistem pengamatan berkelanjutan, pengelola situs warisan budaya dapat memantau perubahan struktur tanpa menunggu hingga kerusakan besar terjadi.

“Pendekatan geodetik ini bukan hanya tentang pengukuran, tapi tentang menjaga cerita yang diukir dalam batu selama lebih dari seribu tahun. Pelestarian cagar budaya bukan sekadar merawat batu, tetapi juga menjaga nilai kemanusiaan dan keberlanjutan bumi tempat kita berpijak.” – tutur Rochmad menutup sesi wawancara di laboratorium Geomatika SV UGM.

Keberhasilan pemantauan deformasi di Candi Prambanan menjadi model bagi pengawasan situs budaya lain di Indonesia seperti Candi Borobudur, Plaosan, atau Muara Takus. Metode kombinasi GNSS–Total Station terbukti efisien dan presisi tinggi untuk memantau bangunan bersejarah yang terpapar risiko geologis.

Penelitian ini juga memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan pengelola situs budaya. Tim UGM berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai program pemantauan jangka panjang yang terintegrasi dengan kebijakan pelestarian nasional.

Kegiatan riset ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui perlindungan warisan budaya dunia sebagai bagian dari pembangunan kota yang inklusif dan tangguh.
  • SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, karena pemantauan deformasi membantu mitigasi risiko bencana geologi yang diperparah oleh dinamika iklim dan lingkungan.
  • SDG 15: Kehidupan di Darat, dengan memastikan keberlanjutan ekosistem dan perlindungan warisan alam serta budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
PKL Angkatan 2021 Bayat

Praktik Kerja Lapangan Angkatan 2021 Prodi Sarjana Terapan Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar UGM

Dengan bangga kami umumkan bahwa mahasiswa Sarjana Terapan / D4 Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, telah sukses menyelesaikan Praktik Kerja Lapangan pada periode 02-14 Januari 2024. Praktik ini menjadi bagian integral dari kurikulum kami yang bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia nyata di bidang teknologi survei dan pemetaan dasar.

Selama periode praktik, mahasiswa kami telah terlibat dalam berbagai proyek yang mencakup survei lapangan, pengumpulan data geospasial, pemetaan wilayah, dan analisis spasial. Dengan bimbingan dari dosen dan praktisi yang berpengalaman, mereka berhasil menyelesaikan tugas-tugas dengan penuh dedikasi dan profesionalisme.

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Melalui penggunaan teknologi survei dan pemetaan, kami telah berkontribusi pada pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam yang lebih efisien, dan peningkatan pemahaman akan perubahan lingkungan.

Sebagai bagian dari komitmen kami terhadap Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), kami mengintegrasikan berbagai aspek keberlanjutan dalam setiap kegiatan kami. Dengan fokus pada beberapa tujuan SDGs seperti “Pemberdayaan Masyarakat” (SDG 1), “Pengelolaan Sumber Daya Alam” (SDG 15), dan “Kota dan Komunitas Berkelanjutan” (SDG 11), kami berupaya untuk menciptakan dampak yang positif bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran Praktik Kerja Lapangan ini, termasuk mitra industri, dosen pembimbing, dan pihak terkait lainnya. Kami yakin bahwa pengalaman ini akan membekali mahasiswa kami dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin di bidang teknologi survei dan pemetaan dasar di masa depan.