Arsip:

SDGs 11 Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan

PEMBUATAN PETA KEPENDUDUKAN PADUKUHAN KEMIRI, DEGUNG, DAN KLEBEN, KALURAHAN KALIAGUNG, SENTOLO, KABUPATEN KULON PROGO

Tim pengabdian kepada masyarakat dari Program Sarjana Terapan Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan pembuatan peta kependudukan di Padukuhan Kemiri, Degung, dan Kleben, Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan yang diketuai oleh Hidayat Panuntun, S.T., M.Eng., D.Sc. ini merupakan bagian dari upaya penerapan ilmu geospasial untuk mendukung tata kelola data kependudukan dan perencanaan pembangunan desa berbasis spasial.

Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan peta kependudukan yang akurat dan mudah diakses sebagai dasar pengambilan keputusan di tingkat kalurahan. Melalui pemetaan ini, pemerintah desa dapat melihat dan memahami sebaran penduduk secara lebih jelas.

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pengumpulan data lapangan, pemetaan batas wilayah, dan validasi informasi penduduk bersama perangkat kalurahan dan masyarakat. Selain menghasilkan peta digital, kegiatan ini juga mencakup sharing knowledge pemanfaatan teknologi pemetaan agar perangkat kalurahan mampu memperbarui data secara mandiri dan berkelanjutan.

Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat dan pemerintah Kalurahan Kaliagung karena dinilai membantu mewujudkan tata kelola desa berbasis data. Program ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 16 (Kelembagaan yang Tangguh), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam penguatan kapasitas dan pembangunan wilayah yang berkelanjutan.

PEMBUATAN PETA KEPENDUDUKAN PADUKUHAN KALIPENTEN DAN NGLOTAK, KALURAHAN KALIAGUNG, SENTOLO, KABUPATEN KULON PROGO

Dalam upaya mendukung pengelolaan data kependudukan yang lebih tertata dan akurat, Program Sarjana Terapan Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), melaksanakan kegiatan pembuatan peta kependudukan di Padukuhan Kalipenten dan Nglotak, Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan ini diketuai oleh Ir. Rochmad Muryamto, M.Eng.Sc., dan menjadi salah satu bentuk nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, tim dosen dan mahasiswa bekerja bersama perangkat kalurahan dalam proses pengumpulan, verifikasi, dan pengolahan data spasial yang berkaitan dengan kondisi kependudukan di dua padukuhan tersebut.

Ir. Rochmad Muryamto, M.Eng.Sc. menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan menghasilkan produk peta, tetapi juga membangun kesadaran pentingnya data spasial di tingkat desa. “Kami berharap pemerintah desa dapat menggunakan peta ini untuk mendukung kebijakan yang berbasis data, sehingga pelayanan masyarakat bisa lebih tepat sasaran,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak Pemerintah Kalurahan Kaliagung menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Sekolah Vokasi UGM. Mereka menilai bahwa hasil kegiatan ini akan sangat membantu dalam penyusunan rencana pembangunan desa, pendataan penduduk, serta pengelolaan wilayah secara lebih efisien.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan hubungan antara UGM dan Pemerintah Kalurahan Kaliagung semakin erat, sekaligus menjadi contoh sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan desa berbasis data dan teknologi. Kegiatan ini selaras dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui penyediaan data spasial untuk perencanaan desa, SDG 16 (Kelembagaan yang Tangguh) lewat penguatan tata kelola berbasis data, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara UGM dan pemerintah desa.

PEMBUATAN PETA KEPENDUDUKAN PADUKUHAN NGRANDU, BANYUNGANTI LOR, DAN KALIGALANG, KALURAHAN KALIAGUNG, SENTOLO, KABUPATEN KULON PROGO

Sentolo, Kulon Progo — Program Sarjana Terapan Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, melaksanakan kegiatan pembuatan peta kependudukan di tiga padukuhan, yaitu Ngrandu, Banyunganti Lor, dan Kaligalang.

Kegiatan ini diketuai oleh Ir. Erlyna Nour Arrofiqoh, S.T., M.Eng dan merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa dan dosen berperan aktif dalam mendukung pembangunan berbasis data spasial di tingkat desa.

Peta kependudukan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi instrumen penting bagi pemerintah kalurahan dalam pengelolaan administrasi kependudukan, perencanaan pembangunan wilayah, serta peningkatan pelayanan publik. Proses pembuatan peta melibatkan pengumpulan data spasial dan nonspasial melalui survei lapangan, pengukuran posisi menggunakan alat survei modern, serta pengolahan data dengan perangkat lunak pemetaan terkini.

Pihak Kalurahan Kaliagung menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan bahwa hasil peta tersebut akan sangat bermanfaat bagi kalurahan, terutama dalam perencanaan pembangunan dan penataan wilayah. “Kami berterima kasih kepada tim dari Sekolah Vokasi UGM atas kontribusinya. Peta kependudukan ini akan membantu kami memiliki data yang lebih akurat dan terstruktur,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Mahasiswa dapat menerapkan langsung ilmu survei dan pemetaan yang diperoleh di kelas untuk menyelesaikan permasalahan di lapangan, sehingga mereka memperoleh pengalaman profesional sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.

Dengan terlaksananya program ini, diharapkan sinergi antara UGM dan pemerintah kalurahan dapat terus berlanjut guna mewujudkan pembangunan desa yang berbasis data, partisipatif, dan berkelanjutan. Kegiatan ini selaras dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 16 (Kelembagaan yang Tangguh), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Gunung Bromo Naik Pelan tapi Pasti: Hasil kajian dengan InSAR Sentinel-1

Tim peneliti Sekolah Vokasi UGM yang dipimpin Hidayat Panuntun, S.T., M.Eng., D.Sc. berhasil mengungkap bahwa kawasan Kaldera Tengger yang menaungi Kompleks Gunung Bromo mengalami pengangkatan (uplift) vertikal yang bersifat luas dan hampir linier selama periode Maret 2017 hingga Februari 2021. Temuan ini diperoleh melalui pemanfaatan data InSAR multi-orbit Sentinel-1 (ascending dan descending) yang diproses dengan sistem LiCSAR–LiCSBAS untuk mendapatkan deret waktu perpindahan permukaan bumi.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa dalam kurun empat tahun tersebut terjadi kumulatif pengangkatan sekitar 91 mm dengan kecepatan maksimum mencapai 24,76 mm/tahun. Pola kenaikan ini tidak hanya muncul di sekitar kawah aktif, tetapi mencakup hampir seluruh lantai kaldera (sand sea) dan lereng bagian dalam, sehingga ditafsirkan sebagai respons terhadap inflasi dangkal dari sistem magmatik atau hidrotermal yang pasokannya lebih besar daripada pelepasan material melalui erupsi kecil dan degassing.

Menurut Panuntun, kendala utama pemantauan deformasi gunung api dengan InSAR adalah karena pengukuran umumnya hanya satu dimensi, yakni mengikuti garis pandang satelit (LOS) sehingga sulit membedakan perpindahan horizontal dan vertikal. Dengan menggabungkan dua geometri orbit, timnya berhasil mendekomposisi perpindahan LOS menjadi komponen naik (up) yang lebih representatif untuk analisis tekanan magma, dan sekaligus mengurangi ambiguitas interpretasi yang kerap muncul ketika sinyal LOS orbit naik dan turun berlawanan. “Pendekatan multi-orbit membuat peta deformasi vertikal kita jauh lebih kredibel untuk keperluan kesiapsiagaan,” ujarnya dalam laporan risetnya.

Kegiatan riset ini selaras dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pertama, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, karena informasi deformasi vertikal yang presisi membantu pemerintah daerah dan pengelola kawasan wisata Bromo–Tengger–Semeru dalam menata ruang berbasis risiko erupsi dan bahaya geologi. Kedua, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim dan Mitigasi Bencana, sebab hasil penelitian langsung memperkuat sistem peringatan dini dan surveilans gunung api berbasis data pengindraan jauh. Ketiga, riset ini juga berkontribusi pada SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi geospasial mutakhir (InSAR multi-orbit, pemrosesan LiCSAR–LiCSBAS) untuk layanan publik di bidang kebencanaan. Dengan demikian, keluaran ilmiah dari penelitian ini tidak hanya menambah pemahaman tentang dinamika magmatik Bromo, tetapi juga memberi dasar ilmiah yang dapat segera dioperasionalkan untuk pembangunan yang aman dan berkelanjutan di kawasan vulkanik aktif Indonesia.

Dosen SV UGM Paparkan Riset Deformasi Vertikal Gunung Bromo di Forum Ilmiah Tahunan ISI 2025

Dosen Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Hidayat Panuntun, S.T., M.Eng., D.Sc., berpartisipasi pada Forum Ilmiah Tahunan Ikatan Surveyor Indonesia (FIT ISI) 2025 yang berlangsung di Hotel Harris Malang, 2–3 Oktober 2025. Tahun ini FIT ISI mengusung tema “The Future Landscape of Geospatial AI-driven for Sustainable Development Goals Technologies” yang menekankan peran teknologi geospasial cerdas untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Pada sesi presentasi akademik, Panuntun memaparkan hasil risetnya berjudul “Vertical Displacement, InSAR, Tengger Caldera, Mount Bromo, Sentinel-1.” Penelitian ini mengkaji deformasi permukaan vertikal di kawasan Kawah Tengger–Gunung Bromo, Jawa Timur dengan memanfaatkan data multi-orbit InSAR Sentinel-1 periode 2017–2021.

Dalam paparannya, Panuntun menjelaskan bahwa Gunung Bromo sebagai gunungapi aktif memiliki potensi menghasilkan perubahan ketinggian permukaan yang tidak selalu terdeteksi jika hanya mengandalkan pergeseran garis pandang (LOS) satelit. “Pendekatan InSAR tunggal memang mampu menunjukkan adanya pengangkatan (uplift), tetapi sulit memisahkan komponen horizontal dan vertikal. Dengan mengintegrasikan beberapa orbit, estimasi deformasi vertikal menjadi lebih andal dan lebih relevan untuk interpretasi proses magmatik,” ujarnya.

Partisipasi Hidayat Panuntun pada FIT ISI 2025 sekaligus menunjukkan kontribusi perguruan tinggi, khususnya SV UGM/Prodi bidang survei dan pemetaan, dalam mendorong penerapan teknologi geospasial untuk keselamatan publik dan pembangunan berkelanjutan. Acara FIT ISI 2025 sendiri dihadiri akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan geospasial dari berbagai daerah, dengan rangkaian seminar, presentasi hasil penelitian, dan forum kolaborasi lintas instansi.

Riset ini memiliki keterkaitan langsung dengan agenda SDGs, khususnya:

  • SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui peningkatan kesiapsiagaan bencana vulkanik bagi masyarakat di kawasan Tengger dan sekitarnya;
  • SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan memperkuat sistem peringatan dini dan basis data bahaya geologi;
  • serta mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pemanfaatan teknologi geospasial dan InSAR multi-orbit sebagai pendekatan praktis dan terukur untuk pemantauan bahaya gunung api di Indonesia.

Studi Deformasi Candi Prambanan untuk Menjaga Warisan Budaya UNESCO

Yogyakarta – Menjulang di antara hamparan sawah dan latar Gunung Merapi yang megah, Candi Prambanan menjadi saksi bisu kejayaan peradaban Hindu di Jawa abad ke-9. Sejak ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991, kompleks candi ini tidak hanya menjadi destinasi wisata spiritual dan budaya, tetapi juga simbol harmoni dan toleransi yang melekat dalam sejarah Nusantara.

Namun, di balik keelokannya, Prambanan menyimpan ancaman yang nyata. Letaknya yang berada di wilayah patahan aktif Sesar Opak membuat candi ini berada di zona rawan gempa bumi. Peristiwa gempa Yogyakarta tahun 2006 menjadi bukti betapa rentannya situs ini terhadap aktivitas tektonik. Kala itu, sebagian struktur batuan runtuh, beberapa relief rusak, dan sejumlah bagian utama harus melalui proses restorasi panjang.

Secara geologis, kompleks Candi Prambanan berdiri di atas tanah berpasir yang dekat dengan Sungai Opak. Kondisi ini membuatnya rentan terhadap likuefaksi dan pergerakan tanah ketika terjadi gempa besar. Selain itu, aktivitas vulkanik Gunung Merapi, yang terletak sekitar 25 kilometer di utara, turut menambah tantangan konservasi.

“Candi Prambanan bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga monumen yang berdiri di atas wilayah geologi yang hidup. Karena itu, upaya konservasi harus berbasis pada data ilmiah,” ungkap Rochmad Muryamto, dosen Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus ketua peneliti pada studi ini.

Sejak tahun 2022, tim peneliti dari Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM melakukan pemantauan deformasi pada Candi Prambanan sebagai bagian dari riset geodetik untuk konservasi cagar budaya. Studi deformasi merupakan penelitian yang bertujuan memantau perubahan posisi atau bentuk struktur secara presisi akibat faktor alam, seperti gempa, pergerakan tanah, maupun penurunan fondasi. Melalui studi ini, tim dapat mendeteksi perubahan sekecil apa pun — bahkan dalam satuan milimeter — sebelum berdampak besar pada stabilitas struktur.

Tim UGM menggabungkan dua teknologi utama: Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Total Station. Melalui GNSS, delapan titik kontrol di sekitar kompleks candi dipantau selama 24 jam penuh menggunakan receiver ganda frekuensi tinggi. Hasil pengukuran mampu menghasilkan posisi dengan akurasi hingga tingkat milimeter, memungkinkan deteksi pergerakan tanah secara absolut.

Sementara itu, pengamatan Total Station dilakukan dengan memasang prisma pengukuran langsung pada tubuh candi. Instrumen ini merekam pergeseran relatif antar titik pantau di permukaan bangunan. Pengamatan dilakukan secara berkala pada tahun 2022 hingga 2025, untuk melihat perubahan spasial dari waktu ke waktu.

“Metode ini memungkinkan kami mendeteksi deformasi hingga fraksi milimeter, sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan pengamatan visual biasa,” kata Hidayat Panuntun, anggota peneliti yang terlibat dalam pengolahan data lapangan. Pendekatan ganda ini—memadukan pemantauan horizontal dan vertikal—memberikan gambaran menyeluruh tentang perilaku struktur candi terhadap lingkungan geodinamiknya. “Dengan data ini, kami dapat merekomendasikan area mana yang perlu pemantauan lebih sering dan bagian struktur mana yang mungkin membutuhkan intervensi konservasi,” ujar Panuntun.

Data deformasi seperti ini sangat krusial untuk merancang kebijakan konservasi berbasis bukti (evidence-based conservation). Dengan sistem pengamatan berkelanjutan, pengelola situs warisan budaya dapat memantau perubahan struktur tanpa menunggu hingga kerusakan besar terjadi.

“Pendekatan geodetik ini bukan hanya tentang pengukuran, tapi tentang menjaga cerita yang diukir dalam batu selama lebih dari seribu tahun. Pelestarian cagar budaya bukan sekadar merawat batu, tetapi juga menjaga nilai kemanusiaan dan keberlanjutan bumi tempat kita berpijak.” – tutur Rochmad menutup sesi wawancara di laboratorium Geomatika SV UGM.

Keberhasilan pemantauan deformasi di Candi Prambanan menjadi model bagi pengawasan situs budaya lain di Indonesia seperti Candi Borobudur, Plaosan, atau Muara Takus. Metode kombinasi GNSS–Total Station terbukti efisien dan presisi tinggi untuk memantau bangunan bersejarah yang terpapar risiko geologis.

Penelitian ini juga memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan pengelola situs budaya. Tim UGM berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai program pemantauan jangka panjang yang terintegrasi dengan kebijakan pelestarian nasional.

Kegiatan riset ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui perlindungan warisan budaya dunia sebagai bagian dari pembangunan kota yang inklusif dan tangguh.
  • SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, karena pemantauan deformasi membantu mitigasi risiko bencana geologi yang diperparah oleh dinamika iklim dan lingkungan.
  • SDG 15: Kehidupan di Darat, dengan memastikan keberlanjutan ekosistem dan perlindungan warisan alam serta budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa.

Integrasi BIM dan webGIS untuk Pengelolaan Bangunan Cagar Budaya Berkelanjutan

Yogyakarta, Oktober 2025 – Integrasi teknologi Building Information Modeling (BIM) dengan web-based Geographic Information System (webGIS) menjadi solusi baru dalam pengelolaan bangunan cagar budaya. Konsep ini dikembangkan oleh tim dari Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM yang dipimpin oleh Ir. Hanif Ilmawan, S.T., M.Eng., IPP.

Melalui pendekatan “BIM leads and GIS supports”, model bangunan dibuat secara detail di lingkungan BIM, kemudian dipresentasikan dalam sistem webGIS berbasis Cesium platform. Kombinasi kedua teknologi ini memungkinkan pengguna untuk menampilkan data spasial tiga dimensi lengkap dengan atribut bangunan, pandangan penampang (section view), serta pengukuran jarak dan dimensi langsung di web.

“Integrasi ini memberikan pandangan yang lebih holistik—BIM menangani detail mikro setiap elemen bangunan, sedangkan GIS menampilkan konteks makro lingkungan sekitarnya,” ungkap Hanif dalam paparannya. Dengan sistem ini, pengelola cagar budaya dapat memantau kondisi bangunan secara virtual, menilai kebutuhan konservasi, dan merencanakan tindakan pemeliharaan dengan lebih baik.

Meski masih menghadapi tantangan seperti ukuran data besar dan keterbatasan analisis spasial lintas platform, hasil penelitian ini menunjukkan potensi besar untuk diterapkan dalam pengelolaan aset budaya di Indonesia.

Riset ini mendukung SDG ke-9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG ke-11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, karena mendorong penggunaan teknologi inovatif untuk infrastruktur bersejarah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ikuti FIT ISI 2025, Dosen Sekolah Vokasi UGM Jelaskan Penerapan BIM pada Bangunan Cagar Budaya

Malang, 2 Oktober 2025 – Dalam ajang Forum Ilmiah Tahunan (FIT) Ikatan Surveyor Indonesia 2025, dosen Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Hanif Ilmawan, S.T., M.Eng., IPP., memaparkan hasil penelitian tentang penerapan Building Information Modeling (BIM) untuk pelestarian bangunan cagar budaya. Studi ini menggunakan Kompleks Pantja Dharma UGM sebagai contoh penerapan nyata teknologi digital dalam upaya pelestarian warisan arsitektur Indonesia.

Menurut Hanif, dokumentasi digital 3D menjadi langkah penting dalam menjaga keaslian dan keutuhan bangunan cagar budaya, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Melalui kombinasi Terrestrial Laser Scanning (TLS) dan UAV Photogrammetry, tim peneliti menghasilkan model 3D yang presisi tinggi dan digunakan untuk membangun model BIM bangunan.

“Model BIM memungkinkan pengelola aset memahami kondisi aktual bangunan dan melakukan perawatan atau pengembangan dengan tetap menjaga keaslian strukturnya,” jelas Hanif. Ia menambahkan bahwa penerapan BIM juga dapat dikembangkan menjadi 4D BIM untuk menampilkan data deret waktu (time-series), sehingga dapat melacak perubahan kondisi bangunan dari waktu ke waktu.

Penelitian ini tidak hanya mendukung upaya pelestarian budaya, tetapi juga memperkenalkan pendekatan ilmiah berbasis teknologi digital dalam pengelolaan aset bersejarah. Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan cagar budaya yang lebih efisien, akurat, dan berkelanjutan.

Penelitian ini berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya target 11.4 yang menekankan perlunya melindungi dan melestarikan warisan budaya dunia.

Transformasi Digital Warisan Budaya: Prodi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar Sekolah Vokasi UGM Kembangkan Model Simulasi 3D Interaktif Candi Prambanan


Yogyakarta, 25 Oktober 2025

Tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Model Simulasi 3D interaktif untuk Bangunan Warisan Budaya dengan studi kasus pada Kompleks Candi Prambanan. Penelitian ini diketuai oleh Ir. Erlyna Nour Arrofiqoh, S.T., M.Eng. dan didanai melalui hibah penelitian Sekolah Vokasi UGM tahun 2025.
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan representasi digital interaktif dari Candi Prambanan, salah satu situs warisan dunia UNESCO, melalui teknologi simulasi 3D. Model simulasi yang dibangun mencakup candi dihalaman utama yakni tiga candi utama yang terdiri dari Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu, serta tiga candi wahana yaitu Candi Angsa, Candi Garuda, dan Candi Nandi. Setiap struktur dalam model digital menampilkan detail arsitektur, relief bercorak cerita epik Ramayana dan Krishnayana, hingga arca-arca sakral yang terdapat di ruang utama masing-masing candi.
Simulasi ini dikembangkan menggunakan perangkat lunak Unity, sebuah platform pengembangan interaktif yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan lingkungan digital. Melalui teknologi ini, pengunjung dapat “memasuki” area candi secara virtual dan menikmati pengalaman imersif layaknya berada di lokasi sebenarnya.

Menurut ketua tim peneliti, Ir. Erlyna Nour Arrofiqoh, pengembangan simulasi ini menjadi langkah inovatif dalam pelestarian warisan budaya berbasis teknologi. “Kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung tanpa mengurangi nilai sakral dan keaslian situs. Selain itu, simulasi ini juga mendukung kebijakan konservasi, terutama jika terjadi pembatasan wisatawan demi menjaga stabilitas struktur bangunan candi,” ungkapnya.

Motivasi lain dari penelitian ini muncul dari pengalaman pandemi COVID-19, yang sempat membatasi akses wisata dan berdampak signifikan terhadap sektor ekonomi budaya. Dengan adanya model simulasi 3D interaktif ini, masyarakat tetap dapat menikmati dan mempelajari warisan budaya Candi Prambanan secara virtual, tanpa risiko kerusakan fisik maupun keterbatasan interaksi langsung.

Lebih jauh, penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama Tujuan 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan — melalui pelestarian warisan budaya dunia dengan dukungan teknologi digital; Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas — dengan memberikan media pembelajaran interaktif untuk mahasiswa, peneliti, dan masyarakat luas; Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi — melalui inovasi dalam sektor pariwisata digital dan ekonomi kreatif.

Dengan penelitian ini, UGM menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, budaya, dan teknologi untuk mendukung keberlanjutan pelestarian warisan budaya Indonesia. Diharapkan, model simulasi 3D Candi Prambanan ini dapat menjadi percontohan bagi pengembangan digital situs-situs budaya lainnya di Indonesia.

Departemen Teknologi Kebumian SV UGM dan PT Geo Metri Indonesia Jalin Kerja Sama melalui Workshop Total Station Robotic

Yogyakarta, 21 Oktober 2025 — Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menjalin kerja sama dengan PT Geo Metri Indonesia dalam bidang pengembangan kompetensi teknologi survei dan pemetaan. Kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua pihak yang dilaksanakan di Hall Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi, UGM.

Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri, khususnya dalam penguasaan teknologi terkini di bidang survei dan pemetaan digital. Setelah penandatanganan kerja sama, kegiatan dilanjutkan dengan Workshop “Pengenalan & Pelatihan Total Station Alpha R1 Robotic” yang menghadirkan Muhamad Hasan Albana dari PT Geo Metri Indonesia sebagai narasumber.

Dalam pelatihan ini, peserta memperoleh pemahaman langsung tentang penggunaan Total Station Alpha R1 Robotic, sebuah alat ukur dengan sistem otomatis berbasis robotik yang mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi pengukuran lapangan. Workshop ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD) angkatan 2024, serta terbuka bagi mahasiswa dari seluruh program studi di Departemen Teknologi Kebumian.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu meningkatkan keterampilan praktis serta mengenal perkembangan teknologi terkini di industri geospasial. Selain itu, kerja sama antara SV UGM dan PT Geo Metri Indonesia ini menjadi langkah konkret dalam mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian terapan, dan pengabdian kepada masyarakat berbasis teknologi survei modern.