Kontribusikan IPTEK Bagi Pelestarian Cagar Budaya, Peneliti TSPD UGM Tawarkan Solusi Simulasi 3-D Kerentanan Fisik Candi Prambanan Berbasis Framework Reality Capture (Scan)-to-FEM
Info TSPDSDGs 11 Kota dan Komunitas yang BerkelanjutanSDGs 4 Pendidikan BermutuSDGs 9 Infrastruktur, Industri dan Inovasi Kamis, 8 Oktober 2026
Pelestarian cagar budaya bertujuan salah satunya agar fisik dan nilai cagar budaya bertahan atau berkelanjutan selama mungkin. Seperti diketahui, cagar budaya Candi Prambanan sendiri fisiknya rentan terhadap ancaman tektonik, vulkanik, akustik, dan keikliman tinggi akibat faktor geografisnya. Bukti nyata ancaman ini terlihat pada candi Apit yang merupakan bagian dari kluster Candi Prambanan. Candi Apit mengalami kerusakan berat hingga batu Ratna kemuncaknya lepas akibat gempa Yogyakarta 2006. Hal ini yang mendorong tim peneliti dari TSPD UGM, yang diketuai oleh Dr. Anindya Sricandra Prasidya, S.T., M.Eng., untuk mengembangkan model candi Prambanan yang tidak hanya realistis secara fisik, namun juga bisa merespons berbagai faktor ancaman kerusakan fisik di sekitarnya. Penelitian ini dilaksanakan pada periode bulan April hingga Oktober tahun 2026.
Penelitian yang didanai oleh hibah penelitian Sekolah Vokasi UGM ini menawarkan framework bernama Multi-Sensory Scan-to-FEM (Finite Element Method), yang memuat inti tahapan reality scan/ capture à FE conversion à FE simulation. Menurut ketua peneliti, Dr. Anindya, pendekatan ini merupakan langkah inovatif untuk mempercepat transformasi data reality scan multi-sensor (berupa titik awan kerapatan tinggi) menjadi model volumetric mesh 3D yang siap diberikan faktor ancaman tertentu, seperti kegempaan. "Scan-to-FEM mengkonversi langsung data titik awan kerapatan tinggi (hasil scan) secara langsung tanpa perantara intermediary surface yang memungkinkan model Finite Element diperoleh secara langsung. Model ini langsung bisa merespons gaya yang diaplikasikan padanya, seperti gempa tektonik, vulkanik, akustik, keikliman, dll.", tuturnya. Lebih lanjut model seperti ini cocok bagi kasus candi Apit, Prambaan yang dikelilingi oleh serangkaian faktor ancaman. "Dengan adanya model FE dari hasil scan ini, bahaya kerusakan candi akibat berbagai faktor di sekitarnya dapat dimitigasi, sehingga pelestarian fisik cagar budaya bisa dilakukan berkelanjutan", ungkapnya.
Hasil penelitian dari tim ini menunjukkan bahwa Scan-to-FEM ini mampu menyediakan framework yang mampu memprediksi titik-titik pada candi yang punya kerentanan tinggi bila diaplikasikan suatu gaya dinamis, seperti gaya seismik yang disebabkan dari gempa tektonik Yogyakarta 2006. Model sukses menunjukkan letak-letak titik rentan rusak tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya dan catatan kerusakan yang terdapat pada laporan teknis pasca gempa oleh BP3-Yogyakarta yang terbit tahun 2009. Menurut ketua tim, Scan-to-FEM ini potensial dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak faktor ancaman dan diterapkan pada lebih banyak cagar budaya untuk menguji performa teknisnya. “Kami melakukan penelitian lanjutan dengan menambahkan faktor ancaman yang lebih komprehensif di penelitian kami ke depan. Kami berharap ini dapat mendukung mitigasi kebencanaan tidak hanya di candi Apit, Prambanan, namun candi-candi atau cagar budaya lain di Indonesia secara lebih luas”, tuturnya.
Kegiatan penelitian yang didanai oleh hibah penelitian Sekolah Vokasi UGM ini diharapkan dapat berkontribusi pada pelestarian cagar budaya di Indonesia secara lebih masif melalui optimalisasi teknologi geospasial sebagai dasarnya. Lebih lanjut, penelitian ini berkontribusi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan). Dengan kegiatan ini, UGM menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan riset dan inovasi untuk kepentingan bangsa.