Arsip:

Info TSPD

Inovasi Teknologi UAV-LiDAR untuk Pemetaan Morfologi Pantai Parangtritis

Inovasi Teknologi UAV-LiDAR untuk Pemetaan Morfologi Pantai Parangtritis

Yogyakarta — Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), menerapkan teknologi Unmanned Aerial Vehicle–Light Detection and Ranging (UAV-LiDAR) untuk pengukuran dan pemetaan morfologi pantai di kawasan Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Penelitian Kompetitif Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 yang diketuai oleh Annisa Farida Hayuningsih, S.T., M.Eng., Ph.D.

Penelitian ini mengintegrasikan teknologi UAV-LiDAR, pengukuran Global Navigation Satellite System (GNSS) geodetik, dan pemindaian tiga dimensi berbasis Simultaneous Localization and Mapping (SLAM). Integrasi teknologi tersebut digunakan untuk memperoleh informasi geometri permukaan pantai secara tiga dimensi serta mengidentifikasi mega cusp, yaitu fitur morfologi pantai berupa tonjolan (horn) dan lekukan (embayment) di sepanjang garis pantai.

Pelaksanaan penelitian didukung oleh PT Geo Investama Mandiri sebagai mitra dalam kegiatan akuisisi data UAV-LiDAR. Penelitian ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, yaitu Farizi Hibatul Hakim, Michelle Hans Elviera, Rasyid Widayanta, dan Fakhri Priambada, yang berpartisipasi dalam kegiatan survei dan pengumpulan data lapangan.

Melalui penerapan teknologi pengukuran modern, penelitian ini menghasilkan informasi spasial yang dapat digunakan untuk mengkarakterisasi morfologi pantai secara lebih menyeluruh. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana penguatan kompetensi mahasiswa dalam penerapan teknologi survei dan pemetaan digital.

Penelitian tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi metode pengukuran, peningkatan kapasitas penelitian terapan, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra industri dalam pemanfaatan teknologi geospasial.

(sumber : Schofield dkk, 2024)

Riset Tim TSPD DTK SV UGM: Perbedaan Metode Pengajuan LKE Buka Peluang Indonesia dan Mikronesia Bertetangga Langsung

Tim peneliti dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD) Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM melakukan kajian strategis terkait Landas Kontinen Ekstensi (LKE) antara Indonesia dan Mikronesia. Penelitian ini menyoroti keunikan analisis geospasial di mana Indonesia dan Federasi Mikronesia menggunakan pendekatan teknis pengajuan yang berbeda, namun secara kebetulan berujung pada potensi tumpang tindih di wilayah yang sama di utara Papua.

Dalam dokumen pengajuannya ke Komisi Batas Landas Kontinen PBB (Pasal 76 UNCLOS 1982), Indonesia menggunakan kerapatan morfologis 12 titik Foot of Slope (FOS) yang dipadu dengan formula Hedberg (jarak 60 mil laut dari FOS). Sebaliknya, Mikronesia memanfaatkan data ketebalan sedimen melalui formula Gardiner Line yang membuat jangkauan landas kontinennya menjorok jauh ke selatan. Meski bertumpu pada metodologi teknis yang berbeda, kedua metode dari masing-masing negara tersebut secara kebetulan bertemu di bentukan dasar laut yang sama, yaitu kawasan Eauripik Rise pada koordinat 2°–4°30’ LU dan 138°–144° BT.

Pertemuan dua klaim teknis di wilayah yang sama ini melahirkan potensi zona tumpang tindih hak (overlapping entitlements). Kondisi ini memberikan signal kepada kedua negara untuk menetapkan dan menarik garis batas landas kontinen yang tegas melalui perundingan bilateral (Pasal 83 UNCLOS). Menariknya, penetapan garis batas perairan ini membawa implikasi politis dan geografis baru: Indonesia dan Federasi Mikronesia secara resmi akan menjadi dua negara yang bertetangga secara langsung di kawasan Pasifik Barat.

Guna merespons kondisi tersebut, tim TSPD yang melibatkan dosen serta mahasiswa melakukan kajian batas maritim ini mendukung pencapaian SDG 14 (Life Below Water) dalam memberikan kepastian tata kelola dan perlindungan ekosistem laut, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui mekanisme diplomasi perbatasan yang damai, adil, dan berbasis hukum internasional.

Kajian ini membuktikan peran penting civitas akademika TSPD SV UGM dalam mengaplikasikan ilmu pemetaan geospasial demi mendukung diplomasi kedaulatan negara di panggung internasional.

Pelestarian Bangunan Cagar Budaya

Peneliti UGM Kembangkan Teknologi Digital untuk Mendukung Pelestarian Bangunan Cagar Budaya

YOGYAKARTA – Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru dalam upaya pelestarian bangunan cagar budaya. Salah satunya melalui penerapan teknologi Scan-to-BIM (Building Information Modeling), yaitu pendekatan yang mengintegrasikan teknologi pemindaian tiga dimensi (3D) dengan pemodelan informasi bangunan untuk menghasilkan dokumentasi digital yang merepresentasikan kondisi fisik bangunan secara lebih menyeluruh.

Teknologi tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Ir. Hanif Ilmawan bersama tim peneliti Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian ini mengkaji penerapan teknologi Scan-to-BIM untuk mendukung dokumentasi digital bangunan cagar budaya dengan mengambil studi kasus lima bangunan bersejarah di Kompleks Pantja Dharma, Sekolah Vokasi UGM.

Penelitian ini didanai oleh Sekolah Vokasi UGM melalui Program Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan institusi terhadap pengembangan riset terapan, inovasi teknologi, dan publikasi ilmiah yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat serta berbagai sektor pembangunan.

Kompleks Pantja Dharma dipilih karena memiliki nilai sejarah penting dan telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 211/KEP/2024. Kompleks yang pembangunannya dimulai pada 1951 hingga 1959 ini terdiri atas lima bangunan utama, yaitu Gedung Iso Reksohadiprodjo, Gedung Soeparwi, Gedung Herman Yohannes, Gedung Tjahjono Adi, dan Gedung Perpustakaan.

Sebagai bangunan bersejarah yang telah berusia lebih dari enam dekade, dokumentasi kondisi fisik menjadi kebutuhan penting untuk mendukung kegiatan pemeliharaan, renovasi, dan pengembangan kawasan. Di sisi lain, setiap perubahan terhadap bangunan cagar budaya perlu memperhatikan aspek pelestarian agar nilai sejarah dan keaslian arsitekturnya tetap terjaga.

Digitalisasi Bangunan untuk Pengelolaan yang Lebih Baik

Teknologi Scan-to-BIM memungkinkan kondisi fisik bangunan direpresentasikan dalam bentuk model digital tiga dimensi yang dilengkapi informasi mengenai elemen dan karakteristik bangunan. Berbeda dengan dokumentasi berupa foto atau gambar dua dimensi, model digital ini berpotensi menjadi basis informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari dokumentasi kondisi aktual, perencanaan pemeliharaan, hingga pengelolaan aset bangunan.

Penerapan teknologi ini tidak hanya relevan untuk bangunan cagar budaya, tetapi juga memiliki potensi pengembangan pada berbagai jenis infrastruktur dan fasilitas publik. Dokumentasi digital yang merepresentasikan kondisi aktual bangunan dapat membantu pemilik dan pengelola aset dalam memperoleh informasi yang lebih terstruktur sebagai dasar pengambilan keputusan.

Bagi kementerian dan lembaga pemerintah, teknologi Scan-to-BIM berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung inventarisasi dan dokumentasi aset milik negara, seperti gedung perkantoran, fasilitas pendidikan, rumah sakit, serta bangunan pelayanan publik. Ketersediaan informasi digital mengenai kondisi fisik bangunan dapat membantu proses pemantauan aset, perencanaan pemeliharaan, dan pengembangan fasilitas secara lebih terencana.

Sementara itu, bagi industri konstruksi, konsultan perencana, kontraktor, serta penyedia jasa survei dan pemetaan, teknologi ini membuka peluang pengembangan layanan dokumentasi digital bangunan. Pemanfaatannya dapat diperluas untuk mendukung perencanaan renovasi, penyusunan gambar kondisi aktual (as-built drawing), pengawasan pekerjaan konstruksi, hingga pengelolaan fasilitas berbasis BIM.

Dalam konteks pelestarian warisan budaya, pendekatan ini juga berpotensi dikembangkan menjadi Heritage Building Information Modeling (HBIM). Melalui HBIM, informasi geometrik bangunan dapat diintegrasikan dengan informasi sejarah, karakteristik arsitektur, serta data pemeliharaan. Dengan demikian, dokumentasi digital tidak hanya berfungsi sebagai rekaman kondisi fisik, tetapi juga menjadi sumber informasi untuk mendukung upaya pelestarian bangunan bersejarah dalam jangka panjang.

Mendorong Pengembangan Riset Geomatika dan BIM di UGM

Penelitian ini memperlihatkan peluang kolaborasi antara bidang geomatika, khususnya teknologi survei dan pemetaan 3D, dengan teknologi BIM. Integrasi kedua bidang tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan riset terapan yang relevan dengan kebutuhan dokumentasi, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur di era digital.

Ke depan, pengembangan penelitian dapat diarahkan pada penerapan teknologi Scan-to-BIM untuk berbagai jenis bangunan dan infrastruktur, pengembangan HBIM, serta integrasi BIM dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Integrasi BIM dan SIG berpotensi menghadirkan sistem pengelolaan aset berbasis spasial yang dapat dimanfaatkan tidak hanya pada tingkat bangunan, tetapi juga dalam skala kawasan dan wilayah.

Melalui penelitian ini, tim berharap teknologi Scan-to-BIM dapat semakin dikembangkan sebagai solusi digital untuk mendukung pelestarian warisan budaya, meningkatkan kualitas pengelolaan aset, serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.

Penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui dukungan terhadap pelestarian warisan budaya, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan dan penerapan inovasi teknologi digital untuk dokumentasi serta pengelolaan infrastruktur, dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kegiatan penelitian terapan, pengembangan kompetensi teknologi, serta kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pelaksanaan kelas foto udara

Kegiatan Pelatihan Pengambilan Data Foto Udara Berbasis Drone untuk Mendukung Penyediaan Data Spasial Kapanewon di Kabupaten Kulon Progo

Yogyakarta, 4 September 2026 – Telah diselenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) oleh Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD), Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini berlangsung di Field Research Center (FRC) Sekolah Vokasi UGM yang berlokasi di Wates, Kabupaten Kulon Progo. Program pelatihan ini dilaksanakan sebagai wujud nyata kepedulian akademisi dalam meningkatkan kapasitas tata kelola wilayah berbasis data spasial di tingkat Kapanewon se-Kabupaten Kulon Progo. Pelaksanaan kegiatan difokuskan pada pengenalan serta pemanfaatan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone sebagai instrumen akuisisi data geospasial.

Kegiatan PkM ini melibatkan perwakilan aparatur desa atau Pamong Kapanewon yang menjabat sebagai Jogoboyo dari 87 Kapanewon di Kabupaten Kulon Progo. Para peserta yang berjumlah total 87 orang dibagi ke dalam 4 kelas pelatihan interaktif, yaitu 2 kelas Sistem Informasi Geografis (SIG) dan 2 kelas foto udara, dengan kuota sekitar 20 peserta pada masing-masing kelas. Kehadiran para Jogoboyo sangat penting mengingat peran strategis mereka di wilayah masing-masing dalam membantu Lurah menjalankan fungsi pemerintahan, menjaga ketenteraman, serta mengelola berbagai urusan kewilayahan dan pertanahan. Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari pukul 08.00 WIB untuk registrasi peserta, diikuti dengan pembukaan resmi pada pukul 08.30 WIB.
Acara pembukaan diisi dengan sambutan dari Ketua Departemen Teknologi Kebumian UGM, Hidayat Panuntun, S.T., M.Eng., D.Sc., serta dilanjutkan dengan sambutan dari Drs. Jazil Ambal Was'an selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kelurahan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulon Progo. Dalam sambutannya, disampaikan pentingnya penguasaan teknologi geospasial bagi aparatur di tingkat lokal untuk mendukung pembangunan wilayah yang presisi dan berkelanjutan. Setelah pembukaan, para peserta diarahkan menuju ruang kelas untuk mengikuti pematerian teoritis mengenai pengenalan drone untuk pemetaan.
Sesi pematerian kelas diawali dengan penjelasan mendasar mengenai fungsi drone sebagai alat akuisisi data spasial yang efisien untuk merekam kondisi permukaan bumi dari udara. Instruktur memaparkan komponen-komponen utama drone, prinsip kerja sistem kamera, hingga mekanika kendali penerbangan. Peserta juga dibekali dengan standar keselamatan penerbangan serta hal-hal teknis yang wajib diperiksa sebelum pengoperasian perangkat di lapangan. Pembahasan dilanjutkan pada aspek perencanaan kegiatan foto udara atau flight plan, yang meliputi penentuan batas area pemetaan, penetapan arah penerbangan, pengaturan persentase pertampalan foto (overlap), serta pola lintasan terbang. Penekanan diberikan pada pentingnya tahap perencanaan agar proses pemotretan udara dapat mencakup seluruh area studi secara sistematis dan terarah.

Pelaksanaan kelas foto udara ini juga didukung secara teknis oleh mitra industri, yaitu PT. Geo Investama Mandiri, yang menyediakan perangkat foto udara dan menerjunkan tim pendamping teknis. Kolaborasi antara tim dosen TSPD UGM dan pendamping teknis dari mitra industri memberikan pengalaman komprehensif bagi peserta, baik dari sudut pandang akademis maupun penerapan praktis di dunia kerja nyata. Setelah pematerian kelas usai, rangkaian kegiatan dilanjutkan ke lapangan terbuka di sekitar FRC untuk sesi demonstrasi langsung.
Pada sesi praktik lapangan, instruktur memperagakan prosedur standar pra-penerbangan (pre-flight check), yang mencakup pemeriksaan fisik drone, instalasi baterai, serta pengujian sensor dan sistem kamera. Selanjutnya, drone diterbangkan secara otomatis sesuai dengan jalur penerbangan (flight plan) yang telah disusun sebelumnya di dalam kelas. Selama penerbangan berlangsung, para peserta diajak mengamati secara langsung bagaimana drone mengumpulkan citra foto udara secara teratur. Sesi ini diakhiri dengan diskusi interaktif mengenai kendala lapangan dan tata cara penanganan data awal hasil pemotretan.

Melalui pelaksanaan pelatihan ini, para aparatur kapanewon diharapkan tidak hanya memahami teori dasar teknologi drone, tetapi juga memiliki gambaran utuh mengenai alur akuisisi data spasial dari udara. Pengetahuan yang diperoleh menjadi bekal penting bagi perangkat desa dalam mendukung perencanaan pembangunan, pemantauan wilayah, serta penyediaan data spasial mandiri di level kapanewon di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui peningkatan kapasitas aparatur, pemanfaatan teknologi geospasial, penguatan tata kelola berbasis data, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta mitra industri.

Tata Kelola Pemerintahan di Kulon Progo

Pemetaan Partisipatif Berbasis SIG Dukung Pengelolaan Wilayah dan Tata Kelola Pemerintahan di Kulon Progo

Kulon Progo, 4 September 2026 — Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui pelatihan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Global Navigation Satellite System (GNSS) untuk meningkatkan kompetensi pemetaan geospasial di tingkat kelurahan. Kegiatan yang mengangkat topik “Pemetaan Partisipatif dan Mandiri untuk Meningkatkan Tata Kelola Pemerintah Daerah Menuju Sustainable Development” tersebut dilaksanakan pada Jumat (4/9) di Field Research Center (FRC) Sekolah Vokasi UGM, Wates, Kulon Progo.

Peserta kegiatan ini adalah para Jogoboyo, yaitu Pamong Kelurahan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang bertugas membantu Lurah dalam bidang pemerintahan, ketenteraman, ketertiban, dan keamanan masyarakat, serta urusan keistimewaan pertanahan, yang mewakili masing-masing dari 87 Kelurahan se-Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan diawali dengan registrasi pada pukul 08.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan pada pukul
08.30 WIB. Pembukaan diisi dengan sambutan dari Ketua Departemen Teknologi Kebumian, Hidayat Panuntun, S.T., M.Eng., D.Sc., serta sambutan dari Drs. Jazil Ambal Was’an selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kelurahan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai Sistem Informasi Geografis dan GNSS yang terbagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama, penyampaian materi dilakukan di ballroom oleh Ir. Hanif Ilmawan, S.T., M.Eng., IPP., dengan materi pengenalan dasar Sistem Informasi Geografis melalui perangkat lunak QGIS serta pengenalan teknologi dan pengukuran GNSS. Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktek lapangan di sekitar Field Research Center (FRC) Sekolah Vokasi UGM. Dalam kegiatan tersebut, peserta melakukan mencoba secara langsung pengukuran menggunakan metode Real-Time Kinematic (RTK) untuk memperoleh data posisi di lapangan. Praktik tersebut didampingi secara langsung oleh mitra dari PT Geo Investama Mandiri (GIM) Surveyor bersama dosen pendamping, sehingga peserta dapat memperoleh pengalaman dalam penggunaan perangkat GNSS sekaligus berdiskusi dan mendapatkan penjelasan selama kegiatan berlangsung.

Pada sesi kedua, kegiatan kembali diawali dengan penyampaian materi oleh Dr. Anindya Sricandra Prasidya, S.T., M.Eng. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik lapangan di sekitar FRC dengan pendampingan dari tim PT Geo Investama Mandiri (GIM) Surveyor dan dosen pendamping. Rangkaian kegiatan pada kedua sesi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pemahaman melalui penyampaian materi sekaligus pengalaman praktik secara langsung dalam pengumpulan data geospasial menggunakan GNSS.

Setelah seluruh rangkaian praktik lapangan selesai, kegiatan dilanjutkan pada sesi siang setelah waktu istirahat dan makan siang dengan penyampaian materi oleh Ir. Hanif Ilmawan, S.T., M.Eng., IPP. Materi pada sesi ini berfokus pada penyimpanan dan pengolahan data hasil pengukuran GNSS serta demonstrasi plot data hasil pengukuran ke dalam perangkat lunak QGIS. Peserta diperkenalkan pada tahapan pengelolaan data hasil pengukuran hingga visualisasi data dalam bentuk informasi spasial menggunakan QGIS.

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi pemetaan geospasial bagi perangkat kelurahan di Kabupaten Kulon Progo. Pemanfaatan GNSS memungkinkan diperolehnya informasi posisi suatu objek atau titik di lapangan secara terukur, sedangkan SIG digunakan untuk mengelola, mengolah, menganalisis, dan menyajikan data geospasial. Pemanfaatan kedua teknologi tersebut memiliki keterkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Selain mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas dan literasi digital aparatur lokal, pelatihan ini mendorong SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat adopsi inovasi teknologi pemetaan serta pengembangan infrastruktur data digital wilayah. Di sisi lain, penggunaan informasi geospasial berkontribusi pada SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui perencanaan wilayah berbasis data presisi, memperkuat SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) lewat tata kelola pertanahan yang transparan, serta diwujudkan melalui SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) lewat sinergi kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan mitra industri.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mengenal penggunaan perangkat GNSS dan SIG, tetapi juga memahami konsep dasar pengukuran, penentuan, dan pengambilan posisi suatu titik di lapangan. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi para Jogoboyo dalam menjalankan tugasnya, khususnya ketika berhadapan dengan informasi spasial dan permasalahan pertanahan di wilayah masing-masing. Dengan pemahaman mengenai dasar penentuan posisi dan data geospasial, peserta diharapkan mampu memahami serta melakukan verifikasi awal terhadap informasi yang berkaitan dengan posisi atau lokasi suatu objek di lapangan, sehingga dapat mendukung pengelolaan informasi pertanahan dan pelayanan pemerintahan yang lebih baik di tingkat kalurahan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengenali alur dasar pengumpulan hingga pengolahan data geospasial, mulai dari pengukuran posisi menggunakan GNSS hingga visualisasi data menggunakan QGIS. Kegiatan ini memberikan pemahaman awal bagi peserta mengenai pemanfaatan teknologi geospasial yang dapat diterapkan untuk mendukung pengelolaan data dan kebutuhan pemetaan di tingkat kelurahan.

Pelatihan SIG dan GNSS

Tim Pengabdian kepada Masyarakat TSPD UGM Dorong Kemandirian Pemetaan melalui Pelatihan SIG dan GNSS kepada Perangkat Kalurahan di Kulon Progo

Yogyakarta, 4 September 2026 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD), Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Pelatihan Pemetaan Partisipatif Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) bagi perwakilan kalurahan di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Jumat (4/9) di Field Research Center (FRC) SV UGM.

Kegiatan kelas SIG B diikuti oleh sekitar 22 peserta yang merupakan bagian dari 87 peserta dari berbagai kalurahan di Kabupaten Kulon Progo. Kelas ini dikoordinasikan oleh Dr. Anindya Sricandra Prasidya, S.T., M.Eng., bersama tim dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa TSPD UGM.

Pelatihan diawali dengan pengenalan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Global Navigation Satellite System (GNSS) sebagai teknologi yang dapat mendukung proses pengumpulan dan pengelolaan data spasial. Peserta kemudian mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan pengukuran GNSS menggunakan metode statik dan Real-Time Kinematic (RTK).

Dalam pelaksanaan praktik GNSS, kegiatan ini turut memperoleh dukungan dari PT. Geo Investama Mandiri melalui penyediaan perangkat GNSS serta keterlibatan perwakilan perusahaan sebagai pendamping teknis. Perwakilan PT. Geo Investama Mandiri bersama dosen TSPD UGM memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah teknis pengoperasian
perangkat GNSS, sehingga peserta dapat memperoleh pemahaman dari sisi akademik sekaligus praktik yang diterapkan dalam dunia survei dan pemetaan.

Setelah praktik pengukuran, peserta diperkenalkan pada proses pengolahan data spasial menggunakan QGIS. Data hasil pengukuran GNSS kemudian digunakan sebagai salah satu contoh untuk menunjukkan bagaimana data yang diperoleh di lapangan dapat diolah, divisualisasikan, dan disajikan menjadi informasi spasial.

Melalui kegiatan ini, Tim PkM TSPD UGM mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat kalurahan agar mampu memanfaatkan teknologi geospasial secara lebih mandiri. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dan disebarluaskan kembali di kalurahan masing-masing, sehingga data spasial dapat dimanfaatkan sebagai salah satu dasar dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah berbasis data.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia industri dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi geospasial untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.

Pelatihan Foto Udara

Pelatihan Foto Udara Dorong Pemanfaatan Teknologi Drone untuk Mendukung Tata Kelola Wilayah di Kabupaten Kulon Progo

Kulon Progo, 4 September 2026 — Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa pelatihan foto udara bagi aparatur wilayah di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Wilayah Berbasis Spasial Melalui Pelatihan Foto Udara di 6 Kapanewon Kabupaten Kulon Progo (Studi Kasus Kapanewon Panjatan, Pengasih, Samigaluh, Sentolo, Temon, dan Wates)” tersebut dilaksanakan pada Jumat (4/9) di Field Research Center (FRC) Sekolah Vokasi UGM, Wates, Kulon Progo.

Kegiatan diikuti oleh para Jogoboyo yang mewakili masing-masing dari 87 Kalurahan se-Kabupaten Kulon Progo. Para peserta merupakan pamong kalurahan yang memiliki peran dalam mendukung pelaksanaan pemerintahan dan pengelolaan berbagai informasi kewilayahan. Kegiatan dimulai dengan registrasi pada pukul 08.00 WIB dan pembukaan pada pukul 08.30 WIB. Pembukaan diisi dengan sambutan dari Ketua Departemen Teknologi Kebumian, Hidayat Panuntun, S.T., M.Eng., D.Sc., serta Drs. Jazil Ambal Was’an selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kelurahan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulon Progo.

Pada sesi utama, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar foto udara menggunakan drone. Penyampaian materi dimulai dengan pengenalan drone sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk memperoleh data foto dari udara. Peserta diperkenalkan dengan komponen utama drone beserta fungsi masing-masing bagian, termasuk perangkat kamera dan sistem kendali yang digunakan dalam proses penerbangan.

Materi selanjutnya membahas alur pelaksanaan pemetaan menggunakan foto udara, mulai dari tahap persiapan, perencanaan area pemotretan, pembuatan jalur penerbangan, pelaksanaan penerbangan, hingga proses pengambilan foto udara. Penyampaian materi tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa kegiatan foto udara tidak hanya berkaitan dengan menerbangkan drone, tetapi juga membutuhkan perencanaan yang sistematis agar data yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan pemetaan.

Salah satu materi yang mendapatkan perhatian dalam pelatihan adalah pembuatan jalur penerbangan drone. Peserta diperkenalkan pada proses menentukan area pemotretan dan menyusun pola jalur yang akan digunakan oleh drone. Melalui materi tersebut, peserta memahami bahwa jalur penerbangan perlu disiapkan sebelum kegiatan lapangan sehingga proses pengambilan foto dapat dilakukan secara terarah dan mencakup wilayah yang menjadi objek pemetaan.

Setelah sesi kelas selesai, peserta mengikuti demonstrasi penggunaan drone secara langsung di lapangan. Demonstrasi diawali dengan persiapan perangkat sebelum penerbangan. Instruktur menunjukkan proses pemeriksaan drone, kamera, baterai, serta perangkat pendukung lainnya. Selanjutnya, jalur penerbangan yang telah direncanakan diperagakan untuk memberikan gambaran mengenai hubungan antara perencanaan jalur dengan pelaksanaan akuisisi foto udara.

Dalam demonstrasi tersebut, peserta juga dapat mengamati proses drone melakukan penerbangan sesuai jalur yang telah ditentukan dan melakukan pengambilan foto dari udara. Penjelasan diberikan selama proses berlangsung sehingga peserta dapat memahami tahapan kegiatan secara utuh, mulai dari persiapan perangkat hingga proses akuisisi data foto udara.

Kegiatan praktik lapangan menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung penerapan materi yang sebelumnya disampaikan di dalam kelas. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai fungsi drone, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai tahapan kerja yang perlu dilakukan dalam kegiatan foto udara.

Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta terhadap pemanfaatan teknologi drone sebagai salah satu teknologi pendukung pengumpulan data spasial. Pengetahuan mengenai pengenalan perangkat, perencanaan jalur, dan proses akuisisi foto udara dapat menjadi dasar bagi peserta dalam memahami pemanfaatan data spasial untuk kebutuhan pengelolaan wilayah.

Melalui kegiatan ini, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang geospasial diharapkan dapat mendukung tata kelola wilayah yang semakin berbasis data. Pemanfaatan foto udara dapat menjadi salah satu sumber informasi spasial yang membantu memberikan gambaran kondisi wilayah secara lebih menyeluruh, khususnya dalam mendukung kebutuhan perencanaan dan pengelolaan wilayah di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi geospasial, dukungan terhadap tata kelola wilayah berbasis data, serta kolaborasi dalam pengembangan kapasitas aparatur di tingkat lokal.

Respons Candi Apit - gempa 2a

Kontribusikan IPTEK Bagi Pelestarian Cagar Budaya, Peneliti TSPD UGM Tawarkan Solusi Simulasi 3-D Kerentanan Fisik Candi Prambanan Berbasis Framework Reality Capture (Scan)-to-FEM

Pelestarian cagar budaya bertujuan salah satunya agar fisik dan nilai cagar budaya bertahan atau berkelanjutan selama mungkin. Seperti diketahui, cagar budaya Candi Prambanan sendiri fisiknya rentan terhadap ancaman tektonik, vulkanik, akustik, dan keikliman tinggi akibat faktor geografisnya. Bukti nyata ancaman ini terlihat pada candi Apit yang merupakan bagian dari kluster Candi Prambanan. Candi Apit mengalami kerusakan berat hingga batu Ratna kemuncaknya lepas akibat gempa Yogyakarta 2006. Hal ini yang mendorong tim peneliti dari TSPD UGM, yang diketuai oleh Dr. Anindya Sricandra Prasidya, S.T., M.Eng., untuk mengembangkan model candi Prambanan yang tidak hanya realistis secara fisik, namun juga bisa merespons berbagai faktor ancaman kerusakan fisik di sekitarnya. Penelitian ini dilaksanakan pada periode bulan April hingga Oktober tahun 2026.

Penelitian yang didanai oleh hibah penelitian Sekolah Vokasi UGM ini menawarkan framework bernama Multi-Sensory Scan-to-FEM (Finite Element Method), yang memuat inti tahapan reality scan/ capture à FE conversion à FE simulation. Menurut ketua peneliti, Dr. Anindya, pendekatan ini merupakan langkah inovatif untuk mempercepat transformasi data reality scan multi-sensor (berupa titik awan kerapatan tinggi) menjadi model volumetric mesh 3D yang siap diberikan faktor ancaman tertentu, seperti kegempaan. "Scan-to-FEM mengkonversi langsung data titik awan kerapatan tinggi (hasil scan) secara langsung tanpa perantara intermediary surface yang memungkinkan model Finite Element diperoleh secara langsung. Model ini langsung bisa merespons gaya yang diaplikasikan padanya, seperti gempa tektonik, vulkanik, akustik, keikliman, dll.", tuturnya. Lebih lanjut model seperti ini cocok bagi kasus candi Apit, Prambaan yang dikelilingi oleh serangkaian faktor ancaman. "Dengan adanya model FE dari hasil scan ini, bahaya kerusakan candi akibat berbagai faktor di sekitarnya dapat dimitigasi, sehingga pelestarian fisik cagar budaya bisa dilakukan berkelanjutan", ungkapnya.

Hasil penelitian dari tim ini menunjukkan bahwa Scan-to-FEM ini mampu menyediakan framework yang mampu memprediksi titik-titik pada candi yang punya kerentanan tinggi bila diaplikasikan suatu gaya dinamis, seperti gaya seismik yang disebabkan dari gempa tektonik Yogyakarta 2006. Model sukses menunjukkan letak-letak titik rentan rusak tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya dan catatan kerusakan yang terdapat pada laporan teknis pasca gempa oleh BP3-Yogyakarta yang terbit tahun 2009. Menurut ketua tim, Scan-to-FEM ini potensial dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak faktor ancaman dan diterapkan pada lebih banyak cagar budaya untuk menguji performa teknisnya. “Kami melakukan penelitian lanjutan dengan menambahkan faktor ancaman yang lebih komprehensif di penelitian kami ke depan. Kami berharap ini dapat mendukung mitigasi kebencanaan tidak hanya di candi Apit, Prambanan, namun candi-candi atau cagar budaya lain di Indonesia secara lebih luas”, tuturnya.

 

Kegiatan penelitian yang didanai oleh hibah penelitian Sekolah Vokasi UGM ini diharapkan dapat berkontribusi pada pelestarian cagar budaya di Indonesia secara lebih masif melalui optimalisasi teknologi geospasial sebagai dasarnya. Lebih lanjut, penelitian ini berkontribusi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan). Dengan kegiatan ini, UGM menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan riset dan inovasi untuk kepentingan bangsa. 

Wisuda Periode IV

Dari Kampus untuk Masa Depan: Lulusan TSPD Siap Berkarya dengan Bekal Kompetensi Geospasial

Yogyakarta — Sebanyak 11 mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan (TSPD), Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, resmi menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar Sarjana Terapan Teknik (S.Tr.T.) dalam Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada 19 Agustus 2026.

Wisuda menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik sekaligus awal bagi para lulusan untuk membawa ilmu, pengalaman, dan kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan ke dunia profesional serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Karya Geospasial untuk Beragam Kebutuhan

Selama menempuh pendidikan, para lulusan TSPD menghasilkan berbagai proyek akhir yang menunjukkan penerapan teknologi geospasial untuk menjawab kebutuhan di lapangan mulai dari pemetaan wilayah, penginderaan jauh, survei GNSS, fotogrametri, hingga LiDAR dan analisis spasial.

Muhammad Faiz Mutti mengangkat pemetaan perubahan tutupan lahan berbasis Support Vector Machine dan kesesuaiannya dengan tata ruang di Kota Tasikmalaya. Sementara itu, Syifa Us Sudur mengkaji sebaran dan perubahan habitat bentik di Perairan Lakaliba, Kabupaten Buton Selatan, menggunakan citra PlanetScope multitemporal.

Pada bidang penginderaan jauh, Muhammad Iqbal Ariq memanfaatkan citra multispektral berbasis UAV dengan metode NDWI untuk memetakan di area disposal dan kolam pengendapan, Balangan Coal, Kalimantan Selatan. Muhammad Ridho Muzakki menerapkan survei GNSS RTK dan block model serta implikasinya terhadap Data Kadar Ni (%) untuk mengevaluasi kesesuaian tonase bijih nikel pada Temporary Ore Storage.

Sementara itu, Mayludy Aina'ul Misbach memanfaatkan metode Least Cost Path untuk pemodelan rute ekspansi jaringan gas bumi industri dan komersial di Surabaya Timur. Fahmi Asshidiqi mengkaji perbandingan metode georeferensi  post-processing kinematic dengan ground control point berdasarkan ketelitian vertikal point cloud dan perhitungan volume overburden data fotogrametri.

Di bidang pertambangan, Virnanda Nur Mahanani membandingkan volume estimasi dan aktual hasil blasting menggunakan data GNSS RTK dan fotogrametri udara. Nadila Rossyana mengkaji evaluasi koefisien koreksi truck count berdasarkan muatan efektif pada perhitungan volume overburden periode Maret-April 2025.

Pemanfaatan SIG untuk kebencanaan dan pelayanan publik ditunjukkan melalui karya Fianda Aswalirazaq tentang pemetaan kerawanan banjir di Kabupaten Grobogan serta Yulsa Wahyu Andiny mengenai pemetaan keterjangkauan pos pemadam kebakaran di Kabupaten Bantul menggunakan service area analysis.

Melengkapi ragam karya tersebut, Siti Rauda Afiani memanfaatkan teknologi LiDAR untuk pengukuran tinggi dan pemodelan kanopi pohon di kawasan pengembangan Sekolah Vokasi UGM.

Beragamnya topik tersebut menunjukkan bahwa kompetensi TSPD terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi geospasial. Keahlian dalam GNSS, UAV, fotogrametri, penginderaan jauh, LiDAR, dan SIG dapat diterapkan untuk mendukung pengelolaan wilayah, pertambangan, infrastruktur, lingkungan, kebencanaan, hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Dari Kampus untuk Masa Depan

Penguasaan teknologi GNSS, UAV, LiDAR, penginderaan jauh, fotogrametri, dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi bekal bagi para lulusan untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. Melalui kompetensi tersebut, lulusan TSPD diharapkan mampu menghasilkan solusi dan informasi geospasial yang relevan bagi berbagai sektor.

Wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berada di TSPD diharapkan menjadi bekal untuk terus berkembang, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Segenap keluarga besar Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, menyampaikan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan TSPD Periode IV Tahun Akademik 2025/2026. Semoga langkah baru yang ditempuh menjadi awal dari perjalanan penuh karya, prestasi, dan kontribusi positif.

Semangat tersebut sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan kompetensi, inovasi teknologi, dan pemanfaatan informasi geospasial untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Selamat melangkah ke masa depan, para wisudawan TSPD. Terus berkarya, berprestasi, dan menginspirasi! ✨

Mahasiswa TSPD SV UGM Ikuti Kuliah Umum tentang Perkembangan Teknologi Geospasial

Mahasiswa Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar (TSPD), Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti Kuliah Umum bertema “Beyond Mapping: Transformasi Teknologi Geospasial dari Pemetaan menuju Intelligent Decision Making” yang diselenggarakan oleh Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi UGM. Kegiatan berlangsung di Ballroom Lantai 2 Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC), Sekolah Vokasi UGM pada 18 Agustus 2026.

Kuliah umum ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa TSPD untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan teknologi geospasial serta memahami penerapannya di lingkungan profesional. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai perkembangan teknologi, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan kompetensi di dunia kerja.

Kegiatan menghadirkan tiga narasumber dari lingkungan militer dan industri geospasial, yaitu Marsma TNI Kristian Suseno R., S.Si., M.Sc. selaku Direktur Penginderaan Jauh Pusat Geospasial TNI AU, Vella Ahalla Hulaifah Somantri, S.T. selaku Geospatial Manager PT Barrakusuma Spatial Teknologi, serta Dwima Fillailiy Nisa, A.Md. selaku GIS Presales & Support Engineer PT Leica Geosystems Indonesia. Sesi kuliah umum dimoderatori oleh Ade Febri Sandhini Putri, S.Si., M.Sc. selaku dosen Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM. Ketiga narasumber memberikan perspektif yang beragam mengenai pemanfaatan teknologi geospasial, penginderaan jauh, serta perkembangan teknologi yang digunakan dalam dunia profesional.

Bagi mahasiswa TSPD, materi yang disampaikan memiliki keterkaitan erat dengan bidang survei dan pemetaan. Perkembangan teknologi menunjukkan bahwa data hasil survei dan pemetaan tidak hanya digunakan untuk menghasilkan produk peta, tetapi dapat diolah menjadi informasi yang mendukung analisis, perencanaan, pemantauan, hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Melalui pemaparan para narasumber, mahasiswa juga memperoleh gambaran mengenai pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Kompetensi teknis di bidang survei dan pemetaan perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap teknologi, pengolahan data, serta kemampuan melihat kebutuhan pengguna agar lulusan mampu memberikan solusi geospasial yang relevan.

Antusiasme mahasiswa terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa berkesempatan berinteraksi langsung dengan para narasumber untuk menggali informasi mengenai perkembangan teknologi, kebutuhan kompetensi di dunia kerja, serta peluang penerapan keilmuan survei dan pemetaan di berbagai sektor.

Keikutsertaan mahasiswa TSPD dalam kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya memperkaya pengalaman pembelajaran di luar kelas. Kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi dan profesional di bidang geospasial diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami perkembangan industri sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa TSPD diharapkan semakin memahami bahwa bidang survei dan pemetaan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Kemampuan untuk mengintegrasikan data, teknologi, dan analisis menjadi bagian penting dalam menghasilkan informasi geospasial yang dapat memberikan nilai tambah bagi berbagai kebutuhan profesional dan pembangunan.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan wawasan dan kompetensi mahasiswa, SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur) melalui penguatan pemahaman terhadap perkembangan teknologi geospasial, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui keterlibatan mitra industri dalam mendukung pengembangan pendidikan.