Pengamatan Satelit Ungkap Penurunan Permukaan Kaldera Gunung Tambora Selama Satu Dekade
Info TSPDSDGs 11 Kota dan Komunitas yang BerkelanjutanSDGs 9 Infrastruktur, Industri dan Inovasi Senin, 2 November 2026
Semarang – Tim peneliti dari Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkap indikasi penurunan permukaan tanah secara berkelanjutan di kawasan Kaldera Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam Forum Ilmiah Tahunan Ikatan Surveyor Indonesia (FIT-ISI) 2026 di Semarang, melalui kajian berjudul “Geodetic Imaging of Potential Long-Term Caldera Unrest at Mount Tambora Using Satellite-Based InSAR Timeseries.”
Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat Panuntun bersama Annisa Farida Hayuningsih, Nabila Adifa, Winda Yuliana, dan Wafiq Khoirunisa ini memanfaatkan teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) untuk memantau perubahan permukaan Gunung Tambora selama periode 2014–2025. Gunung Tambora dipilih karena memiliki sejarah erupsi dahsyat pada tahun 1815 yang membentuk kaldera berdiameter sekitar tujuh kilometer.
Dengan memanfaatkan data satelit Sentinel-1, tim mengolah sekitar 800 interferogram menggunakan sistem LiCSAR dan LiCSBAS, disertai koreksi atmosfer GACOS. Teknologi ini memungkinkan pemantauan deformasi permukaan secara luas dan berkesinambungan tanpa memerlukan pengukuran langsung di seluruh kawasan gunung api.
Hasil analisis menunjukkan perpindahan negatif maksimum sepanjang arah pandang satelit (Line of Sight/LOS) mencapai −527,58 milimeter atau sekitar 52,8 sentimeter, yang terkonsentrasi di kawasan kaldera. Sementara itu, perpindahan positif maksimum mencapai 102,87 milimeter pada beberapa wilayah di luar kaldera. Analisis deret waktu memperlihatkan bahwa sinyal deformasi negatif berlangsung secara persisten, mengindikasikan adanya penurunan permukaan kaldera dalam jangka panjang. Meski demikian, mekanisme penyebab deformasi tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Temuan ini memperlihatkan potensi teknologi penginderaan jauh berbasis satelit dalam mendukung pemantauan aktivitas gunung api serta penyediaan informasi ilmiah untuk mitigasi risiko bencana. Penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui inovasi teknologi geospasial dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui dukungan informasi untuk pengurangan risiko bencana.
Melalui penelitian yang dipresentasikan pada FIT-ISI 2026 ini, Sekolah Vokasi UGM menegaskan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi geospasial terapan untuk memahami dinamika kebumian serta mendukung peningkatan ketangguhan masyarakat terhadap potensi bencana geologi.