Arsip:

warisan

Pelestarian Bangunan Cagar Budaya

Peneliti UGM Kembangkan Teknologi Digital untuk Mendukung Pelestarian Bangunan Cagar Budaya

YOGYAKARTA – Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru dalam upaya pelestarian bangunan cagar budaya. Salah satunya melalui penerapan teknologi Scan-to-BIM (Building Information Modeling), yaitu pendekatan yang mengintegrasikan teknologi pemindaian tiga dimensi (3D) dengan pemodelan informasi bangunan untuk menghasilkan dokumentasi digital yang merepresentasikan kondisi fisik bangunan secara lebih menyeluruh.

Teknologi tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Ir. Hanif Ilmawan bersama tim peneliti Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian ini mengkaji penerapan teknologi Scan-to-BIM untuk mendukung dokumentasi digital bangunan cagar budaya dengan mengambil studi kasus lima bangunan bersejarah di Kompleks Pantja Dharma, Sekolah Vokasi UGM.

Penelitian ini didanai oleh Sekolah Vokasi UGM melalui Program Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan institusi terhadap pengembangan riset terapan, inovasi teknologi, dan publikasi ilmiah yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat serta berbagai sektor pembangunan.

Kompleks Pantja Dharma dipilih karena memiliki nilai sejarah penting dan telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 211/KEP/2024. Kompleks yang pembangunannya dimulai pada 1951 hingga 1959 ini terdiri atas lima bangunan utama, yaitu Gedung Iso Reksohadiprodjo, Gedung Soeparwi, Gedung Herman Yohannes, Gedung Tjahjono Adi, dan Gedung Perpustakaan.

Sebagai bangunan bersejarah yang telah berusia lebih dari enam dekade, dokumentasi kondisi fisik menjadi kebutuhan penting untuk mendukung kegiatan pemeliharaan, renovasi, dan pengembangan kawasan. Di sisi lain, setiap perubahan terhadap bangunan cagar budaya perlu memperhatikan aspek pelestarian agar nilai sejarah dan keaslian arsitekturnya tetap terjaga.

Digitalisasi Bangunan untuk Pengelolaan yang Lebih Baik

Teknologi Scan-to-BIM memungkinkan kondisi fisik bangunan direpresentasikan dalam bentuk model digital tiga dimensi yang dilengkapi informasi mengenai elemen dan karakteristik bangunan. Berbeda dengan dokumentasi berupa foto atau gambar dua dimensi, model digital ini berpotensi menjadi basis informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari dokumentasi kondisi aktual, perencanaan pemeliharaan, hingga pengelolaan aset bangunan.

Penerapan teknologi ini tidak hanya relevan untuk bangunan cagar budaya, tetapi juga memiliki potensi pengembangan pada berbagai jenis infrastruktur dan fasilitas publik. Dokumentasi digital yang merepresentasikan kondisi aktual bangunan dapat membantu pemilik dan pengelola aset dalam memperoleh informasi yang lebih terstruktur sebagai dasar pengambilan keputusan.

Bagi kementerian dan lembaga pemerintah, teknologi Scan-to-BIM berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung inventarisasi dan dokumentasi aset milik negara, seperti gedung perkantoran, fasilitas pendidikan, rumah sakit, serta bangunan pelayanan publik. Ketersediaan informasi digital mengenai kondisi fisik bangunan dapat membantu proses pemantauan aset, perencanaan pemeliharaan, dan pengembangan fasilitas secara lebih terencana.

Sementara itu, bagi industri konstruksi, konsultan perencana, kontraktor, serta penyedia jasa survei dan pemetaan, teknologi ini membuka peluang pengembangan layanan dokumentasi digital bangunan. Pemanfaatannya dapat diperluas untuk mendukung perencanaan renovasi, penyusunan gambar kondisi aktual (as-built drawing), pengawasan pekerjaan konstruksi, hingga pengelolaan fasilitas berbasis BIM.

Dalam konteks pelestarian warisan budaya, pendekatan ini juga berpotensi dikembangkan menjadi Heritage Building Information Modeling (HBIM). Melalui HBIM, informasi geometrik bangunan dapat diintegrasikan dengan informasi sejarah, karakteristik arsitektur, serta data pemeliharaan. Dengan demikian, dokumentasi digital tidak hanya berfungsi sebagai rekaman kondisi fisik, tetapi juga menjadi sumber informasi untuk mendukung upaya pelestarian bangunan bersejarah dalam jangka panjang.

Mendorong Pengembangan Riset Geomatika dan BIM di UGM

Penelitian ini memperlihatkan peluang kolaborasi antara bidang geomatika, khususnya teknologi survei dan pemetaan 3D, dengan teknologi BIM. Integrasi kedua bidang tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan riset terapan yang relevan dengan kebutuhan dokumentasi, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur di era digital.

Ke depan, pengembangan penelitian dapat diarahkan pada penerapan teknologi Scan-to-BIM untuk berbagai jenis bangunan dan infrastruktur, pengembangan HBIM, serta integrasi BIM dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Integrasi BIM dan SIG berpotensi menghadirkan sistem pengelolaan aset berbasis spasial yang dapat dimanfaatkan tidak hanya pada tingkat bangunan, tetapi juga dalam skala kawasan dan wilayah.

Melalui penelitian ini, tim berharap teknologi Scan-to-BIM dapat semakin dikembangkan sebagai solusi digital untuk mendukung pelestarian warisan budaya, meningkatkan kualitas pengelolaan aset, serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.

Penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui dukungan terhadap pelestarian warisan budaya, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan dan penerapan inovasi teknologi digital untuk dokumentasi serta pengelolaan infrastruktur, dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kegiatan penelitian terapan, pengembangan kompetensi teknologi, serta kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Integrasi BIM dan webGIS untuk Pengelolaan Bangunan Cagar Budaya Berkelanjutan

Yogyakarta, Oktober 2025 – Integrasi teknologi Building Information Modeling (BIM) dengan web-based Geographic Information System (webGIS) menjadi solusi baru dalam pengelolaan bangunan cagar budaya. Konsep ini dikembangkan oleh tim dari Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM yang dipimpin oleh Ir. Hanif Ilmawan, S.T., M.Eng., IPP.

Melalui pendekatan “BIM leads and GIS supports”, model bangunan dibuat secara detail di lingkungan BIM, kemudian dipresentasikan dalam sistem webGIS berbasis Cesium platform. Kombinasi kedua teknologi ini memungkinkan pengguna untuk menampilkan data spasial tiga dimensi lengkap dengan atribut bangunan, pandangan penampang (section view), serta pengukuran jarak dan dimensi langsung di web.

“Integrasi ini memberikan pandangan yang lebih holistik—BIM menangani detail mikro setiap elemen bangunan, sedangkan GIS menampilkan konteks makro lingkungan sekitarnya,” ungkap Hanif dalam paparannya. Dengan sistem ini, pengelola cagar budaya dapat memantau kondisi bangunan secara virtual, menilai kebutuhan konservasi, dan merencanakan tindakan pemeliharaan dengan lebih baik.

Meski masih menghadapi tantangan seperti ukuran data besar dan keterbatasan analisis spasial lintas platform, hasil penelitian ini menunjukkan potensi besar untuk diterapkan dalam pengelolaan aset budaya di Indonesia.

Riset ini mendukung SDG ke-9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG ke-11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, karena mendorong penggunaan teknologi inovatif untuk infrastruktur bersejarah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.