Aktivitas MBKM Prodi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar : Survei Topografi Kantor Distrik Navigasi Kelas I Medan Kota Belawan untuk Tata Kelola Administrasi Kota Belawan
Info TSPDSDGs 17 Kemitraan untuk Mencapai TujuanSDGs 4 Pendidikan Bermutu Kamis, 23 Mei 2024
Indonesia memiliki peran strategis pada jalur perdagangan dunia dengan potensi wilayah lautnya yang tiga kali lebih luas dari daratannya. Tentu dalam melakukan perdagangan dunia melalui jalur laut atau maritim. Pelabuhan Belawan termasuk jalan bagi para pengguna maritim untuk melakukan bisnis atau perekonomian melalui jalur laut sehingga fasilitas sarana Bantu Navigasi Pelayaran di daerah Belawan membutuhkan perawatan dan pengawasan yang intensif guna untuk menimalisir terjadinya kecelakaan di laut.

Kegiatan pengukuran topografi ini merupakan serangkaian dari project sebagai bentuk proses tata kelola administrasi Kota Belawan Kecamatan Medan. Belawan terletak 0-5 meter di atas permukaan laut di kawasan pesisir Kota Medan. Bentuk topografi wilayah ini berupa daerah dataran yang sedikit bergelombang. Seiring kemajuan pelabuhan dunia, Pelabuhan Belawan akan menjadi pelabuhan pusat global seperti pelabuhan Singapura.

Pengukuran ini dilakukan di Distrik Navigasi kelas I Medan Kota Belawan mulai tanggal 16 Maret sampai dengan 28 Maret 2024. Dalam kegiatan magang, mahasiswa TSPD mendapatkan pengalaman langsung di lapangan untuk melakukan kegiatan survei topografi dengan beberapa tahapan yaitu melaksanakan survei pendahuluan ke lokasi pengukuran selanjutnya melakukan pembangunan titik BM dan titik CP sesuai dengan spesifikasi yang Jaring Kontrol Horizontal (JKH) tahun 2002 dan melakukan penarikan titik BM yang berada di sekitar area Pelindo serta menuju lokasi pengukuran topografi untuk mengetahui koordinat yang berada di wilayah tersebut. Selain itu, mahasiswa juga berkontribusi dalam survei hidrografi seperti melakukan survei batimetri, pengambilan sample sedimen dan sample air, dan pengamatan pasang surut. Selain melakukan survei, mahasiswa juga berkontribusi dalam pengolahan data topografi dan data batimetri.

Jadi, tujuan diadakannya pengukuran topografi pada Distrik Navigasi Belawan ini yaitu untuk mendapatkan data lapangan atau data existing untuk memperoleh gambaran bentuk permukaan tanah dan detil situasi serta kenampakan sekitar area darat yang nantinya berguna sebagai data kelola administrasi daerah tersebut. Selain itu, lokasi tersebut memiliki kontur tanah yang belum rata dan masih ditumbuhi pepohonan sehingga membutuhkan perencanaan tanah berupa cut and fill yang diperoleh dari hasil pengukuran topografi.
Hal tersebut menjadi pengalaman yang baru dan menarik karena mahasiswa dapat berkontribusi dalam project tersebut sehingga dapat mengimplementasikan mata kuliah yang relevan dengan kegiatan tersebut seperti Jaring Kontrol Pemetaan, Survei Hidrografi, Aplikasi Survei GNSS, Kartografi Digital, dan lain lain. Hal baru tersebut diharapkan dapat menjadi batu loncatan dan peluang mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan yang berguna untuk masa depan saat memasuki dunia kerja.
Penulis : Nabila Nihayatuzulfaharista, Qanita Annisabrina, Rani Alkahvia








Orientasi merupakan tahapan awal identifikasi titik dengan menggunakan GPS Handheld dimana pada tahapan ini seorang surveyor harus benar-benar teliti mengumpulkan segala informasi di sekitar lokasi titik. Sebagai contoh terdapat area terbuka sehingga dapat digunakan untuk pemasangan patok bantu, sumber air untuk proses pengecoran, mencari akses jalan yang mudah dan efektif sehingga sebelum dilakukan tahapan berikutnya dapat dipersiapkan terlebih dahulu.
Proses pemasangan patok bantu dilakukan untuk menentukan titik rencana pengamatan GNSS secara statik. Titik bantu ini ke depannya akan digunakan sebagai titik ikat untuk pengukuran poligon atau stake out titik galian patok batas. Pengukuran patok bantu statik dilakukan untuk menentukan posisi dan elevasi untuk keperluan penentuan batas. Alat yang digunakan adalah GNSS dengan metode pengukuran radial yang diikatkan pada BM dengan ketentuan pengamatan selama 75 menit dengan interval pengamatan 2 detik dan obstruksi sebesar 15º . Hasil pengukuran statik harus dilakukan secara post processing menggunakan software pengolahan dengan menghasilkan solusi ambiguitas fixed dan memiliki nilai PDOP < 10.
Stake out merupakan tahapan pengukuran untuk menentukan lokasi/posisi titik koordinat patok batas di lapangan. Pada pekerjaan stake out titik patok batas di lapangan ini dapat menggunakan metode pengukuran dengan instrumen total station atau menggunakan metode pengamatan GNSS secara RTK. Setelah posisi titik koordinat patok batas telah ditentukan, tahap selanjutnya adalah melakukan penggalian untuk pemasangan patok batas.
Drop material merupakan proses pengangkutan bahan-bahan material yang digunakan untuk pemasangan (pengecoran) patok batas menuju ke area sekitar titik pemasangan patok batas yang telah di-stake out. Tahap pengecoran (instalasi) patok batas dilakukan sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam peraturan ESDM Nomor 1825 K/30/MEM/2018 yang meliputi pengecekan slump test dengan tingkat konsistensi < 7 cm dan juga harus memperhatikan pemasangan marker atas dan lempeng samping penanda batas wilayah.
Pengecekan kualitas patok dilakukan dengan menggunakan alat hammer test pada 16 titik yang terbagi menjadi 4 pada bagian dinding sepatu bawah, lantai sepatu bawah, dinding patok dan pada atas patok. Ketentuan dari hammer test yaitu minimum setelah 14 hari pengecoran untuk nilai hammer test harus > 25 rebound untuk memastikan tingkat kekerasan beton sehingga dapat dipastikan beton benar-benar keras dan matang.

Pengecoran sepatu atas adalah proses pembuatan sepatu dengan bahan dasar beton. Pengecoran ini dilakukan dengan menggunakan cetakan yang telah dipasang dengan besi tulangan.





