Yogyakarta, Oktober 2025 – Integrasi teknologi Building Information Modeling (BIM) dengan web-based Geographic Information System (webGIS) menjadi solusi baru dalam pengelolaan bangunan cagar budaya. Konsep ini dikembangkan oleh tim dari Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM yang dipimpin oleh Ir. Hanif Ilmawan, S.T., M.Eng., IPP.
Melalui pendekatan “BIM leads and GIS supports”, model bangunan dibuat secara detail di lingkungan BIM, kemudian dipresentasikan dalam sistem webGIS berbasis Cesium platform. Kombinasi kedua teknologi ini memungkinkan pengguna untuk menampilkan data spasial tiga dimensi lengkap dengan atribut bangunan, pandangan penampang (section view), serta pengukuran jarak dan dimensi langsung di web.
“Integrasi ini memberikan pandangan yang lebih holistik—BIM menangani detail mikro setiap elemen bangunan, sedangkan GIS menampilkan konteks makro lingkungan sekitarnya,” ungkap Hanif dalam paparannya. Dengan sistem ini, pengelola cagar budaya dapat memantau kondisi bangunan secara virtual, menilai kebutuhan konservasi, dan merencanakan tindakan pemeliharaan dengan lebih baik.
Meski masih menghadapi tantangan seperti ukuran data besar dan keterbatasan analisis spasial lintas platform, hasil penelitian ini menunjukkan potensi besar untuk diterapkan dalam pengelolaan aset budaya di Indonesia.
Riset ini mendukung SDG ke-9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG ke-11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, karena mendorong penggunaan teknologi inovatif untuk infrastruktur bersejarah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.